Tampilkan postingan dengan label kabar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kabar. Tampilkan semua postingan
10.11

Kisah Seorang Istri Teladan

oleh: Nisa

Sore itu, menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai Ashar, seorang akhwat datang, tersenyum dan duduk di sampingku, mengucapkan salam, sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu.
"Anti sudah menikah?"
"Belum, Mbak," jawabku.
Kemudian akhwat itu .bertanya lagi, "Kenapa?".
Hanya bisa ku jawab dengan senyuman. Ingin ku jawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.

"Mbak menunggu siapa?" aku mencoba bertanya.
"Nunggu suami," jawabnya. Aku melihat ke samping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana Mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya, "Mbak kerja dimana?". Entahlah keyakinan apa yg meyakiniku bahwa mbak ini seorang pekerja, padahal setahuku, akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.
"Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi," jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.
"Kenapa?" tanyaku lagi.
Dia hanya tersenyum dan menjawab, "Karena inilah satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami" jawabnya tegas. Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.

"Ukhti, boleh saya cerita sedikit? Saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat."

"Saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7 juta per bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka kepadanya."

"Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Saya capek sekali, Ukhti. Saat itu juga suami masuk angin dan kepalanya pusing. Parahnya saya juga lagi pusing. Suami minta diambilkan air minum, tapi saya malah berkata, 'Abi, Umi pusing nih. Ambil sendirilah'."

"Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat Isya. Pada pukul 23.30 WIB saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya lihat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang mencucinya kalau bukan suami saya? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. "Astagfirullah, kenapa Abi mengerjakan semua ini? Bukankah Abi juga pusing tadi malam?" hati saya membatin."

"Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap Abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya Abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga. Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, panas sekali pipinya, keningnya. Masya Allah, suami saya demam tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja, saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk di luar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya."

Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yg diusapnya.

"Anti tau berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700rb/bulan, 1/100 dari gaji saya. Malam itu saya benar-benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah kepada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu kepada saya. Setiap kali memberikan hasil jualannya, ia selalu berkata, "Umi, ini ada titipan rezeki dari Allah, diambil ya! Buat keperluan kita. Tidak banyak jumlahnya, mudah-mudahan Umi ridho," begitu katanya."

"Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya," lanjutnya. "Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja. Mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu begitu susah menjaga harta, karena harta juga wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelekan suami," lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.

"Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orangtua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua dan saudara-saudara saya tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Malah mereka membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain." ujarnya. Aku masih terdiam, membisu, mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.

"Kak, kita itu harus memikirkan masa depan. Kita kerja juga untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini besar. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah. Salah kakak juga sih, kalo ma jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini. Ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun dia takmau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu". ujarnya kembali, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.

“Anti tau, saya hanya bisa nangis saat itu. Saya menangis bukan karena apa yang dikatakan adik saya itu benar. Saya menangis karena imam saya dipandang rendah olehnya. Bagaimana mungkin dia meremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud di malam hari. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan. Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah di hadapannya hanya karena sebuah pekerjaan. Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya. Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. Semoga saya tak lagi membantah perintah suami. Semoga saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. Saya bangga, Ukhti, dengan pekerjaan suami saya, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan itu. Kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tapi lihatlah suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya," ceritanya.

"Semoga jika Anti mendapatkan suami seperti saya, Anti tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami Anti pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya, Ukhti, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram," ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis kepadaku.

Mengambil tas laptopnya, ia bergegas ingin meninggalkanku. Kulihat dari kejauhan seorang ikhwan dengan menggunakan sepeda motor tak terlalu bagus mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm. Sambil mengucapkan salam, mereka meninggalkannku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.

sumber : rumahzakat.org
09.32

Ayah Kadang-Kadang

Oleh: Budi Ashari

Ayah tak hanya memenuhi kebutuhan fisik. Kita sudah sepakat dengan hal ini. Tetapi, bagaimana seorang ayah bisa melaksanakan tugasnya dengan baik, kalau interaksi dengan anak bermasalah. Pagi-pagi sudah berangkat, terkadang anak belum bangun. Padatnya pekerjaan, macetnya jalanan, berikut semua masalah di jalanan, membuat sang ayah pulang larut malam, terkadang anak sudah tidur. Penantian mereka untuk sekadar memenuhi kelopak mata dengan wajah sang ayah, tidak terpenuhi. Setelah pagi tadi, tidak sempat mengecup tangan ayah sebelum keberangkatannya. Anak-anak baru merasa punya ayah pada hari Sabtu dan Minggu saja. Terlihat seonggok fisik kelelahan di kursi rumah, setelah 5 atau 6 hari padat beraktifitas. Ada lagi, seorang ayah yang harus bertugas jauh dari anaknya. Sementara sang ibu kebingungan bagaimana harus membagi waktu antara suami dan anaknya. Kepulangan ayah yang sangat dirindukan baru bisa terlaksana sebulan sekali. "Alhamdulillah, saya punya waktu yang cukup untuk anak saya," kata sebagian ayah. Tentu menggembirakan mendengarnya. Tetapi, sayangnya kalimat ini masih berbuntut. "Tapi saya tidak tahu harus menjadi ayah seperti apa?" Nampaknya dia adalah seorang ayah yang sedang kebingungan tentang perannya sebagai ayah. Kadang ayah, kadang bukan. Ayah kadang-kadang. Malah ada yang tidak terasa sama sekali keayahannya. Sang anak tidak merasa punya ayah, yatim sebelum waktunya. Kalau lisan mereka boleh berucap, mereka akan berkata kepada bundanya, "bunda, carikan aku ayah".

Berapa banyak ya, jumlah ayah di Indonesia seperti ilustrasi di atas? Banyak atau sedikit? Nah, Anda sendiri tipe ayah yang mana? Para ayah yang baik, mari kita terus belajar. Kalimat-kalimat di atas bukan untuk memojokkan apalagi hanya menyalahkan tapi untuk melakukan evaluasi, berharap solusi untuk permasalahan dan petunjuk untuk peran keayahan. Untuk generasi yang lebih istimewa dari kita. Ayah, sebagai pengingat kembali untuk kita, inilah kalimat Ibnu Qoyyim yang akan kita analisa kata per kata, "betapa banyak orang yang menyengsarakan anaknya, buah hatinya di dunia dan akhirat karena ia tidak memperhatikannya, tidak mendidiknya dan memfasilitasi keinginannya, sementara dia mengira telah memuliakannya padahal dia telah merendahkannya." Kesengsaraan anak di dunia bahkan hingga di akhirat nanti karena hilangnya perhatian seorang ayah terhadap anaknya. Perhatian? Bukankah banyak para ayah yang merasa telah memperhatikan anaknya? Di mana kurangnya? Ya, perhatian itu berbagai macam bentuknya. Ada perhatian secara fisik dengan sentuhan mantap atau ekspresi wajah seorang ayah. Ada perhatian berupa fasilitas hidup dengan sarana yang disediakan oleh ayah. Ada sapaan menyejukkan di pagi hari dan ucapan selamat atas prestasi dengan lisan ayah. Ada doa yang mengalir dari ketulusan hati seorang ayah. Ini bukan pilihan, tetapi harus dilaksanakan semua.

Sekarang para ayah tahu bukan, mengapa perhatian ayah masih dianggap kurang, karena masih memilih satu atau beberapa saja. Biasanya hanya perhatian fasilitas hidup yang dipilih. Kalau boleh, saya membagi perhatian menjadi tiga macam: Perhatian dalam bentuk kuantitas Perhatian dalam bentuk kualitas Perhatian dalam sunyi Perhatian dalam bentuk kuantitas, artinya kehadiran fisik sang ayah. Demikian juga pemenuhan fasilitas hidup yang merupakan kewajiban ayah. Sang anak bisa menatap wajah ayahnya. Bisa menyentuh tubuh ayah. Bisa meraba rambut ayah. Bisa menggandeng tangan ayah. Sang anak bisa mendapatkan fasilitas untuk belajarnya, sekolahnya, bermainnya, komunikasinya, kebutuhan hidup sehari-harinya. Perhatian kuantitas itu ibarat wadah. Kalau wadah itu belum ada, bagaimana seorang ayah bisa mengisi anaknya dengan misi kebaikan? Untuk poin ini, masalah muncul pada ayah yang sibuk atau bekerja di luar kota jauh dari anak-anaknya dan jarang ada pertemuan fisik.

Bagaimana solusinya? Mohon jauhkan kalimat apologi, "yang penting kualitas pertemuan. Buat apa kuantitas pertemuan sering, tetapi tidak berkualitas". Bukan itu jawabannya! Perhatian dalam bentuk kualitas, artinya kehadiran fisik dan pemenuhan fasilitas itu harus ada ruhnya, bukan pertemuan kosong. Perhatian itu bukan permainan tanpa visi, jalan-jalan tanpa misi, duduk tanpa dialog, atau pembicaraan tanpa nilai. Perhatian itu ibarat wadah, kalau sudah ada, jangan sampai tidak diisi dengan misi kebaikan. Perhatian dalam sunyi, artinya sang ayah tetap menyediakan ruang yang lapang dalam hati dan lisannya saat ia sendirian. Dalam perencanaan hidupnya, dalam doa dan dzikirnya. Saat nanti kita belajar tentang nabi Ibrahim, para ayah akan tahu betapa nabi Ibrahim seorang ayah yang dahsyat itu selalu membasahi lisannya dengan doa untuk generasinya. Ia selalu memikirkan generasinya dalam sendirinya, dalam kesunyiannya, dari hatinya yang paling dalam. Ia selalu berdoa. Untuk poin ini, para ayah tinggal belajar bermacam doa untuk generasi dan terus berupaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Wadah yang telah terisi itu, semakin terlihat indah dengan hiasan yang mengitarinya.

Nah, ini ada hasil penelitian tentang anak yang ‘tidak punya’ ayah:
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Kalter dan Rembar di Rumah Sakit Jiwa Anak, (University of Michigan), dari sampel 144 anak dan remaja awal yang orang tuanya bercerai, sering mengalami tiga hal: 63% masalah psikologis subjektif (didefinisikan sebagai kecemasan, kesedihan, suasana hati yang mudah berubah-ubah, fobia, dan depresi), 56% prestasi rendah atau prestasi di bawah kemampuan yang pernah dicapainya, 43% melakukan agresi kepada orang tua. Shalih bin Awwad al-Maghamisi (al-Ayyam an-Nadzirah wa as-Siroh al-Athiroh, h. 51, MS) menjelaskan, “Fathimah putri yang paling dicintai Nabi shallallahu alaihi wasallam. Imam adz-Dzahabi ketika menuliskan biografi Fathimah dalam al-a’lam berkata: "Dia adalah bagian dari kenabian dan pilihan". Fathimah adalah orang yang paling mirip cara jalannya dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Rasulullah mencintainya, memuliakannya, mengagungkannya. Jika dia mendatangi Rasul beliau menciumnya dan memeluknya. Fathimah adalah bagian dari beliau, Rasul berkata, "Fathimah bagian dari diriku, apa saja yang membuatnya gundah juga akan membuatku gundah, apa saja yang menyakitinya juga menyakitiku". Penggambaran singkat ini, menggambarkan jelas bahwa Rasul hadir secara fisik, memperhatikannya, mampu bersatu dalam rasa dengan putrinya. Mari kita semua menjadi para ayah yang bisa dirasakan kehadirannya. Bukan saja pada fasilitas hidup. Tetapi dalam seluruh lembaran kehidupan anak-anak kita.

sumber : rumahzakat.org
17.41

Gara-gara Muslim, Salim 7 Kali Ditolak Cathay Pacific

Salim Zakhrouf
Seorang Muslim pekerja bandara, Salim Zakhrouf, telah menuduh perusahaan penerbangan Cathay Pacific melakukan rasisme setelah ia ditolak wawancara kerja. Chathay hanya menyediakan satu lowongan pekerjaan, dan anehnya, ketika dua hari kemudian Salim kembali melamar dengan nama palsu yang "keinggris-inggrisan", dia langsung diterima.

Pria kelahiran Aljazair ini membaca lowongan pekerjaan di Cathay Pacific sebagai petugas pelayanan penumpang di Bandara Heathrow. Zakhrouf, 38 tahun , yang tinggal di Inggris sejak 1991 dan merupakan warga negara Inggris, diberitahu melalui email dia cocok untuk pekerjaan itu dan wawancara dibatalkan.

Tapi 48 jam kemudian sebagai 'Ian Woodhouse' dengan CV identik dan alamat rumah sama, ia diundang untuk wawancara oleh petugas personil yang sama yang pertama kali menolaknya.

Zakhrouf, yang memiliki pengalaman layanan pelanggan 17 tahun dan bekerja sebagai agen penanganan penerbangan Heathrow, menolak untuk hadir dalam wawancara itu. Sebaliknya ia melaporkan pada serikat pekerja Unite tempat dia bernaung yang berencana untuk membawa kasus ini ke pengadilan. Unite menuduh Cathay Pacific melakukan diskriminasi rasial dan berkas siap dilayangkan ke pengadilan kerja.

Kepala Pemasaran Cathay Pacific Inggris, Roberto Abbondio, yang dihubungi Daily Mail menyatakan permintaan maafnya. Ia menyebut telah terjadi 'kesalahan administratif' oleh stafnya saat memproses 709 aplikasi dan berkata Cathay sedang meninjau kembali proses perekrutan setelah kasus yang dia digambarkan sebagai 'disayangkan dan mengecewakan'.

Manajer Personalia Cathay Pasifik Inggris, Alison Loftin, juga telah mengirimkan email pada Zakhrouf untuk meminta maaf dan untuk mengatur pertemuan kembali dengannya.

Zakhrouf, yang telah menikah dan memiliki putri berusia 19 bulan menyatakan tak lagi berminat bekerja pada Cathay Pacific. "Cara mereka menangani aplikasi saya rasis dan tidak adil. Saya telah mengirimkan tujuh kali aplikasi pekerjaan di Cathay dalam tiga tahun terakhir dan saya selalu ditolak. Namun ketika nama palsu digunakan, mereka langsung memanggil. Bagi saya, ini hal sangat serius," ujarnya.

sumber : republika.co.id
17.34

Kondisi Ambiguitas Kader Dakwah

Seorang aktivis dakwah kampus pernah mengeluhkan tentang kondisi kader dakwah yang – tanpa sengaja – mendikotomikan antara aktivitas dakwah dan ibadah dalam perilakunya. Ada aktivis dakwah yang yang begitu aktif – penutur tersebut mengistilahkan dengan aktivis dakwah yang ‘haroki’, namun lemah dalam hal ruhiyahnya. Dan ada pula aktivis dakwah yang rajin ibadahnya, atau kuat ruhiyahnya, namun aktivitas dakwahnya tidak menonjol.

Mungkin sudah menjadi gejala di kampusnya, karena ketika fit and proper test untuk pemilihan Badan Pengurus Harian di lembaga dakwah kampus itu, salah seorang calon ditanyakan tentang tindakannya apabila menemui dua karakter jundi yang berbeda: salah seorangnya haroki namun kurang ma’nawi, dan seorang yang lain berkebalikannya.

Apakah gejala di kampus itu juga menjadi gejala nasional? Bisa saja banyak aktifis dakwah yang seperti ini. Karena saya sudah lama mendengar masalah ini diperbincangkan oleh aktifis dakwah. Tapi saya yakin, ada banyak lagi kader dakwah yang mampu tawazun, yang mampu menyeimbangkan dedikasinya pada umat dalam kegiatan-kegiatannya yang berlapis-lapis, dan ‘ubudiyahnya dalam bentuk ibadah mahdoh. Banyak kader yang mampu menjadi – seperti adagium dalam dakwah – fursanun fi nahar, wa ruhbanun fillail.

Aktifis dakwah ada yang mengambing-hitamkan kegiatan dakwahnya. Ketika sibuk dalam kegiatan yang padat, maka seorang aktivis menjadi cemburu dengan kegiatan itu. Ia merasa kegiatan-kegiatan itu mengurangi waktunya untuk berubudiyah kepada Allah. Penyebab kelelahan hingga ia tak mampu memenuhi target amalan yauminya.

Meski salah dalam beralasan, penyesalan atas kesempatan ‘ubudiyah yang hilang masih jauh lebih baik dibanding tidak memiliki penyesalan sama sekali. Berbahaya apabila kelelahan karena aktifitas yang padat itu menjadi justifikasi atas kosongnya tilawah dalam sehari, atau penuhnya malam dengan mimpi. Aktifis dakwah menganggap sebagai suatu hal yang biasa, tertinggalnya beberapa amalan yang memperkuat ruhiyahnya, karena aktifitas yang padat merupakan kompensasi dari amalan-amalan itu.

Hal ini tentu tidaklah bijak. Karena kalau kita mengetahui, aktifitas para sahabat begitu luarbiasa sibuknya, namun mereka tidak pernah tinggal untuk menikmati malam dengan munajat kepada-Nya. Perbandingan yang terdekat adalah dengan para mujahidin di negeri-negeri yang berkecambuk. Sebuah film dokumentasi perang jihad Afghanistan dan Chechnya memperlihatkan para mujahidin menyempatkan diri membaca Al-Qur’an. Padahal ketika itu keadaan sedang tidak aman. Terpancar dari raut wajah mereka kegembiraan ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Kita belumlah memanggul senjata beserta ratusan pelurunya yang berat. Kita tidaklah berjalan begitu jauh, mendaki gunung menerobos belukar, bertahan dalam cuaca yang tidak bersahabat. Sebuah kegiatan yang melelahkan. Jauh perbandingan kelelahan antara kita dengan para mujahidin itu.

Kebaikan aktifis ‘haroki’ dan ‘ma’nawi’

Seorang aktifis dakwah yang ‘haroki’, biasanya ia juga seorang yang memiliki pemahaman yang bagus. Saya berpendapat keharokian itu linier dengan keilmuan yang luas. Dan begitulah yang saya temui di lapangan. Mungkin karena mereka adalah orang yang terbiasa dengan syuro, di mana pada syuro terjadi banyak pemaparan argumen.

Tentu baik apabila seorang aktivis dakwah memiliki wawasan yang luas. Dengannya, roda dakwah dapat berputar pada arah yang benar. Sekaligus juga, keaktifannya itulah yang menjalankan roda dakwah tersebut.

Bagi pribadinya, pemahaman yang baik dapat mencegahnya dari gugur di jalan dakwah. Bukankah dalam sebuah riwayat, setan lebih takut dengan seseorang yang memiliki pemahaman yang tinggi yang sedang tidur di dalam masjid, daripada seseorang yang sedang sholat dalam masjid tersebut. Hal ini karena seseorang yang memiliki pemahaman yang baik, sulit bagi setan untuk menipunya.

Dan seseorang aktivis dakwah yang ibadah mahdhohnya terjaga dengan baik, akan memiliki ma’nawi yang terpancar kuat. Kedekatan kepada Ilahi akan membuat dirinya berwibawa di tengah-tengah orang banyak. Dan apabila ia berdakwah, maka dakwahnya akan lebih mudah menembus hati objek dakwah. Apabila roda dakwah dijalankan oleh orang-orang yang seperti ini, tentu roda dakwah itu akan sangat efektif. Tarbawi dalam sebuah edisi pernah menulis: Ruhiyah kelam dakwah tenggelam, ruhiyah bersinar dakwah pun lancar.

Quwatu shillah billah (kekuatan hubungan dengan Allah) adalah hal yang efektif mencegah dirinya gugur dari jalan dakwah. Ketika permasalah rumit menekannya untuk keluar dari jalan dakwah, ia memiliki tempat bersandar yang begitu empuk: Allah swt. Dzat inilah yang memeliharanya untuk tetap di jalan dakwah, dan senantiasa memberinya taufiq serta furqon agar dapat melihat keadaan lebih jelas.

Lemahnya salah satu kondisi berakibat pribadi yang timpang

Tentu penting untuk memiliki kedua karakter ini pada diri kita. Lemahnya salah satu karakter akan membuat pribadi kita adalah pribadi da’i yang timpang.

Orang yang aktif namun tidak memiliki ruhiyah yang baik, maka berpotensi untuk menjadi orang yang jenuh dengan kepadatan aktifitas tersebut. Tidak tahan mental ketika tertimpa masalah. Lemah dalam ikhlas. Pemahamannya tidak mampu menopangnya untuk tetap berada di jalan dakwah. Sekalipun ia paham bahwa sesuatu itu salah, namun karena kurangnya kedekatan dengan Tuhannya, ia akan tetap melaksanakan sesuatu itu.

Orang yang kuat ruhiyahnya namun malas untuk aktif dalam kepadatan kegiatan dakwah, maka jadilah ia seorang yang sholih tetapi tidak muslih. Ia berpotensi menjadi seseorang yang mudah kecewa pada jama’ah, karena kurangnya pemahaman yang ia miliki.

Ruhiyah adalah inspirasi kita bergerak. Roda dakwah yang berjalan dengan terarah dan lincah, apabila yang menjalankannya kehabisan tenaga, maka roda itu tidak akan bisa berjalan lagi. Sesungguhnya sumber tenaga itu adalah kualitas ruhiyah yang baik.

Jadilah orang yang lengkap. Sebagai penutup, saya ilustrasikan seorang aktivis dakwah yang ideal adalah seperti gambaran mujahidin perang Padri yang dipimpin oleh Imam Bonjol: Al-Qur’an di tangan kirinya dan pedang di tangan kanannya.

sumber : muslimmuda.wordpress.com
17.17

Mas Kawin : Antara Adat dan Syariat

Setiap daerah mempunyai kebiasaan dan budaya yang berbeda. Kata-kata bijak dari khasanah budaya jawa mengabadikan kondisi tersebut dengan ungkapan : negoro mowo toto, deso mowo coro. Bahkan di dalam kajian ushul fiqih, pertimbangan budaya atau adat juga termasuk menjadi salah satu metodologi pengambilan sebuah hukum. Ketika sebuah adat tidak bertentangan dengan syariat, maka bukanlah sebuah cela saat seorang muslim ikut meramaikan dan mensyiarkannya. Pada sisi ini, barangkali fenomena mudik, lebaran, dan halal bihalal nampaknya menjadi contoh yang gamblang tentang akomodasi syariat terhadap nilai-nilai budaya. Lebih menarik lagi di Minangkabau, antara adat dan syariat ternyata bersintesis dengan baik hingga menampilkan wajah : "Adat basandi syara', syara' basandi kitabullah", yang artinya adat bersendikan syariat (ajaran agama) dan syariat bersendikan kitab Allah SWT (Al Qur'an). Subhanallah.

Begitu pula saat kita bicara pernikahan, pastilah akan membahas tentang budaya dan adat yang ada seputarnya. Ada adat yang menyalahi syariat, ada pula yang masih dalam koridor syariat. Tentu disini bukan tempat untuk membahas satu persatu adat dan budaya pernikahan yang menyalahi syariat. Saya hanya ingin sekedar berbagi tentang keunikan perbedaan budaya pernikahan antara masyarakat di Indonesia dan di Arab. Keduanya sama-sama mempunyai budaya yang unik seputar pernikahan, berbeda satu sama lainnya, bahkan saling bertentangan, tapi sama-sama dalam batas koridor syariat. Budaya yang unik tersebut diantaranya :

Budaya Mahar di Indonesia

Bagi masyarakat Indonesia secara umum, mahar tidak identik dengan sesuatu yang besar dan bernilai tinggi. Mereka cukup sederhana dalam menentukan besaran mahar, yang penting ada kenangan dan kesan yang mendalam bahkan setelah bertahun-tahun pernikahan. Pada sisi ini bolehlah kita menyebutnya sebagai sebuah hal yang romantis. Masyarakat kita memang menyukai simbol, karena mahar pun biasanya identik dengan simbol keagamaan atau kasih sayang. Biasanya seperangkat alat sholat, plus beberapa gram perhiasan. Ada juga yang bernilai besar, tapi tidak setara dengan kekayaannya, karena mereka menginginkan sebuah kenangan. Pernikahan artis yang kaya raya misalnya, ternyata besaran maharnya ‘tidak seberapa’ karena disesuaikan dengan tanggal pernikahan mereka yang hanya berderet 6 sampai 8 angka.

Dalam sebuah pernikahan, nampaknya mahar di Indonesia menjadi aksesoris pelengkap saja yang tidak banyak menyita pikiran orang. Pihak mempelai maupun orangtua biasanya lebih ‘heboh’ dalam membahas pesta pernikahan, prosesi, dan ritualnya daripada menyinggung soal mahar. Mungkin juga ini adalah bentuk aplikasi budaya ewuh pakewuh dan masih melekat dalam masyarakat kita. Keunikan lain juga, biasanya mahar hanya berupa hal-hal tertentu saja sebagaimana yang disebutkan di atas, tetapi selain itu terkadang mempelai laki-laki malah memberikan ‘hadiah tunangan’ yang jumlahnya jauh lebih besar dan berlipat-lipat dari mahar yang diberikan. Unik memang.

Budaya Mahar di Saudi

Lain di Indonesia, lain di masyarakat arab sana. Di negara tambang minyak itu sejak dulu kala sangat dikenal dengan mahalnya sebuah mahar menuju pernikahan. Budaya ini pun kemudian melahirkan kegelisahan dan persoalan di tengah masyarakat, karena banyaknya pemuda dan wanita yang tak kunjung menikah meski usia melewati kepala tiga dan empat. Hingga pemuda-pemuda Saudi saat ini berkampanye lewat internet mengajak untuk tidak menikahi perempuan Saudi. Hal itu diakibatkan semakin mahalnya mas kawin dan biaya resepsi pernikahan (Saudi Gazette, 11 Feb 09).

Lalu berapa besar sih mahar khas Arab itu? Di Saudi misalnya, jika seorang pemuda mau menikahi gadis di sana, biasanya harus menyiapkan : mahar / mas kawin 40.000 Real atau 90 Juta rupiah dan biaya pesta 15.000 Real atau 40 Juta. Itu belum syarat lainnya seperti : calon suami harus memilki rumah dengan furniture lengkap walaupun sewa, calon suami kalo bisa memliki mobil untuk transportasi walaupun yang jadul sekalipun. Nah, besar sekali bukan? Jika mau dibandingkan dengan negara kita, kalau mahar itu cukup ‘rukuh dan sajadah’, maka di Arab bisa jadi maharnya adalah “ pabrik rukuh dan sajadahnya”.

Lalu bagaimana besaran mahar secara syariat ?

Mahar tidak lain adalah sebuah pemberian, karenanya bisa berbeda besarannya dan tidak pernah ditentukan kadarnya karena disebut besar tidaknya sangat bergantung dengan kemampuan finansial yang memberi. Karenanya para ulama bersepakat tidak ada batas maksimal dalam pemberian mahar. Ini dilandaskan pada firman Allah SWT : “sedang kamu telah memberikan kepada seseorang diantara mereka harta yang banyak (qinthaar),” (QS Nisa 20). Pernah ada upaya Umar bin Khotob membatasi besaran mahar, tetapi ditentang dan dibatalkan karena bertentangan dengan ayat di atas. Jadi, nampaknya masyarakat Saudi mengoptimalkan mengambil peluang sisi ini, karena secara syariat tidak ada batas maksimal dalam mahar.

Namun, meskipun demikian, syariat tetap menganjurkan untuk mempermudah hal-hal yang berhubungan dengan mas kawin seperti yang tertera dalam sabda Rasulullah: “ "Sesungguhnya wanita yang paling banyak berkahnya adalah wanita yang paling sedikit/murah mas kawinnya."(HR Thobroni)

Adapun tentang batas minimal, maka memang ada perbedaan ulama seputar masalah ini, sebagai berikut :

Ulama Malikiyah berpendapat bahwa mas kawin minimal senilai 3 dirham ( ada juga riwayat : seperempat dinar). Mereka mengkiaskan (menyamakan) hal ini dengan wajibnya potong tangan bagi pencuri ketika barang curiannya bernilai seperempat dinar atau lebih.

Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa mas kawin paling sedikit 10 dirham atau satu dinar. Ini berlandaskan bahwa Nabi membayar mas kawin para isterinya tidak pernah kurang dari 10 dirham.

Catatan : jika dikonversikan ke rupiah, dimana 1 dinar adalah 4,25 gram emas 22 karat, maka batas minimal mahar versi Malikiyah adalah sekitar Rp 300.000,- dan Hanafiyah adalah 1 juta lebih sekian.

Sementara itu Ulama Syafi'iah (yang madzhabnya tersebar di Indonesia) dan Hanbaliyah berpendapat, tidak ada batas minimal, yang penting bahwa sesuatu itu bernilai atau berharga maka sah (layak) untuk dijadikan mas kawin (termasuk seperangkat alat salat). Mereka mendasarkan pendapatnya pada keumuman ayat Al-Quran : "Dan dihalalkan bagimu selain yang demikian, yaitu mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk dizinai" (Q.S. al-Nisa' : 24). Maka harta dalam ayat tersebut bersifat umum bisa besar dan kecil. Begitu pula ditambah dalil lain tentang bagaimana Rasulullah SAW menikahkan sahabat dengan hafalan quran bahkan dengan cincin besi.

Nah, barangkali karena Indonesia menganut madzhab syafii yang tidak mempunyai batas minimal mahar, maka sangat wajar jika kemudian kita lihat masyarakat kita pun tak begitu peduli dengan besaran mahar, apa adanya dan sewajarnya saja. Uniknya ini tidak berlaku di Saudi yang bermadzhab Hanbali, semestinya mereka tidak terlampau strict soal besaran mahar. Wallahu a’lam bisshowab.- indonesiaoptimis.com

disalin dari : islamedia.web.id
17.09

Mewacanakan Nikah pada Orangtua

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menyatukan hati-hati kita. Semoga forum ahad pagi ini bisa lebih mengikat ukhuwah diantara kita. Sebagaimana sering dalam membuka sebuah majelis, saya menyampaikan beberapa harapan :

Di awal majelis ini mari kita berniat agar iman kita meningkat ilmu yang berguna di dapat ukhuwah kita semakin erat serta amal semakin semangat

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah pada Nabi kita Muhammad SAW, keluarga dan sahabat, serta seluruh kaum muslimin yang istiqomah menjalankan risalah islam hingga hari akhir nanti.

Banyak keluhan, curhat atau pertanyaan yang masuk pada saya seputar hal tersebut. Dari mulai pihak orangtua yang ‘shock’ dengan teror dari anaknya yang meminta menikah dengan bertubi-tubi, hingga larangan para orangtua pada anaknya untuk menikah karena masalah ekonomi dan yang semacamnya.

Sepertinya banyak alasan para orangtua belum mengijinkan anaknya untuk menikah, bahkan sampai pada tahapan ada yang ‘sakit’ jika anaknya kembali membicarakan tentang pernikahan. Namun di antara sekian alasan itu, barangkali ada beberapa hal yang sering muncul di benak para orang tua tentang pernikahan putra-putrinya.

1. Merasa Pernikahan itu tidak perlu cepat-cepat, bisa nanti-nanti saja, apalagi bagi yang anaknya laki-laki.
2. Merasa sang anak belum mampu dan mandiri secara ekonomi.
3. Merasa khawatir dengan pasangan anaknya nanti, apakah sholeh atau tidak , dan sebagainya. Bahkan mungkin sebagian sudah ada yang menyiapkan jodoh bagi anaknya.

Nah, ada beberapa hal yang perlu dijalankan seorang akh/ukhti sebelum berproses menuju pernikahan. Semuanya dijalankan dengan penuh kesungguhan dan lemah-lembut. Jangan memaksakan ‘niat mulia’ ini dengan cara yang tidak mulia. Beberapa hal tersebut antara lain :

Pertama : Menunjukkan Prestasi dan Kemampuan Diri

Hendaknya para akhi/ukhti bisa menunjukkan pada kedua orangtuanya bahwa mereka ini telah ‘layak’ menikah. Bukan lagi anak kecil yang ingin dimanja, bukan lagi ‘sekedar’ mahasiswa biasa yang menanti-nanti gelar sarjana. Yakinkan orangtua dengan parade prestasi, maka insya Allah akan membukakan hati para orang tua untuk menyatakan : oo.. ternyata anak saya mampu.

Karenanya, berprestasilah terlebih dahulu dan tunjukkan pada orang tua agar mereka bisa tenang saat merestui anaknya berproses menuju pernikahan.
Ingat ungkapan salah satu putri Syuaib yang diabadikan dalam Al-Quran :

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), Karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang Kuat lagi dapat dipercaya". (Qoshos 26)

Nah, ketika para orangtua sudah cukup merasa tenang bahwa anaknya punya karakter “ Kuat dan Terpercaya” atau mempunya Performance dan Kredibilitas yang baik, maka insya Allah mereka akan menyetujui setiap usulan dari anaknya, termasuk usulan nikah. Jadi, buktikan dulu pada para orangtua bahwa Anda telah banyak mengukir berprestasi .

Kedua : Memberikan Penjelasan tentang Anjuran Menyegerakan Pernikahan

Terkadang orang-orang tua merasa tenang-tenang saja dengan isu pernikahan. Mereka belum sadar bahwa usia semakin menua dan saatnya untuk menimang cucu telah tiba. Karenanya berikan pemahaman bahwa urusan nikah adalah ibadah mulia yang juga mengikuti kaidah : “ Lebih Cepat Lebih Baik “, hal ini tentu senada dengan isyarat dalam sebuah hadits :

روى أحمد والترمذي عن علي رضي الله عنه: أن النبي قال له، " يا علي: ثلاث لا تؤخرها الصلاة: إذا أتت، والجنازة إذا حضرت، والايم إذا وجدت كفئا ".

Dari Ali ra, Rasulullah SAW bersabda : “ Wahai Ali, tiga hal yang jangan engkau tunda-tunda (yaitu) : Sholat ketika telah datang waktunya, jenazah yang sudah siap (dimakamkan), dan bujangan yang sudah menemukan pasangannya (yang sekufu)  (HR Tirmidzi dan Ahmad)

Ketiga : Curhat pada Orangtua tentang Kegelisahan Hati dan banyaknya Godaan di luar sana

Barangkali para orangtua belum sadar sepenuhnya bagaimana kondisi dunia luar yang bisa mengotori hati putra-putrinya. Di sana ada pemandangan syahwati yang bertaburan di jalanan dan sekolahan. Di sana ada satu dua pandangan dan sapaan yang melenakan. Di sana ada ucapan-ucapan indah yang mengotori niat dan hati. Belum lagi dengan iringan lagu-lagu romantis yang senantiasa memprovokasi.

Seorang akhi/ukhti hendaklah dengan jujur menyampaikan kegelisahan ini. Dan dari sanalah kemudian muncul keinginan untuk segera membentengi diri. Mengakhiri segala bentuk romantisme semua yang tiada henti. Sampaikan pada orangtua bahwa anaknya ini ingin menikah untuk menjaga diri dan juga kehormatan keluarga.

Barangkali hadits di bahwa ini bisa jadi bekal untuk berdiskusi :


وفي حديث الترمذي عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (ثلاثة حق على الله عونهم، المجاهد في سبيل الله، والمكاتب الذي يريد الاداء، والناكح الذي يريد العفاف

Dari Abu Hurairah ra , Rasulullah SAW bersabda : “ Ada tiga orang yang wajib bagi Allah menolongnya : orang yang berjihad di jalan Allah, budak ‘Mukatib’ yang ingin membayar pembebasannya, dan seorang yang ingin menikah untuk menjaga dirinya (HR Tirmidzi).

Keempat : Meyakinkan tentang rizki dan tekad kuat untuk mandiri

Sungguh kurang layak mengajukan pernikah pada orangtua jika kantong ini belum terisi dari keringat kita sendiri. Memang ada satu dua kasus dimana orangtua ‘sholih’ sangat inisiatif dalam membantu pernikahan anaknya secara finansial. Barangkali ia terinspirasi dengan Nabi Syu’aib yang begitu kooperatif membantu pernikahan putrinya dengan Nabi Musa as. Tapi saya yakin tidak banyak orang tua yang semacam itu.

Nah, jadilah kita harus ‘berjanji-janji’ bak politisi untuk mewujudkan kemandirian ekonomi. Sampaikan langkah-langkah Anda ke depan dalam memenuhi kebutuhan dasar sebuah pernikahan. Jika ada satu dua keluarga yang tulus membantu, terima dengan tangan terbuka tapi tidak dalam arti melenakan kita untuk mencari dengan keringat kita sendiri.

Jangan lupa mengingatkan konsep ekonomi ‘Ketuhanan’ yaitu pernikahan adalah salah satu pintu-pintu rizki di muka bumi ini. Betapa banyak yang menjadi kaya dan bersemangat dalam berusaha saat di rumah telah ada bidadari yang memotivasi. Yakinkan para orang tua dengan ayat monumental tentang pernikahan dan rizki

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيم

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS An-Nuur 32)


Kelima : Menyampaikan bahwa Akhlak dan Agama adalah Prioritas Utama dalam mencari pasangan nantinya

Terakhir, meyakinkan bahwa ‘calon mantu’ nanti adalah sosok yang terpilih karena keshalihan dan agamanya. Bukan sekedar tampan dan cantik karena ini bukan audisi model dan artis, bukan pula sekedar kaya raya karena ini bukanlah membuat perusahaan komersial. Tapi yang dicari adalah dua kriteria utama : Akhlak dan Agamanya.

Perlu juga diingatkan pada para orangtua ini dua karakter ini sejak awal, jangan sampai mereka mengharapkan kriteria bermacam-macam yang barangkali justru tidak islami dan mempersulit anaknya dalam menemukan jodohnya. Cukuplah bagi para orangtua peringatan Rasulullah SAW dalam haditsnya :

وروى الترمذي بإسناد حسن عن أبي حاتم المزني، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: " إذا أتاكم من ترضون دينه وخلقه فأنكحوه، إلا تفعلوا تكن فتنة في الارض وفساد كبير،

Dari Abu Hatim ra, Rasulullah SAW bersabda : “ Jika telah datang (melamar) padamu seorang yang engkau ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan anakmu), jika engkau tidak melakukannya maka akan muncul fitnah di muka bumi ini dan kerusakan yang besar “ ( HR Tirmidzi dengan sanad yang baik)

Akhirnya, masih banyak tahapan yang harus akhi/ukhti jalankan sebelum memasuki sebuah proses pernikahan. Akan ada hambatan, bahkan mungkin tangisan, tapi yakinlah itu semua akan semakin mendewasakan dan mengokohkan hati untuk menghadapi lebih banyak lagi tantangan usai pernikahan.

Wallahu a’lam bisshowab. Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk memahami apa yang kita kaji pagi ini, menjalankannya dengan sepenuh hati. Serta, -tentu saja- mendakwahkannya pada yang lain.


sumber : islamedia.web.id
16.45

Tanggal Berapa Nabi Muhammad lahir?

Selama ini umat Islam di Indonesia pada tanggal 12 Rabiul Awal,banyak yang merayakan hari kelahiran beliau, atau menjadikan momentum perubahan kearah lebih baik dan juga sering disampaikan substansi perayaan Maulid Nabi, bahkan sampai-sampai tanggal 12 Rabiul Awal diliburkan oleh pemerintah. Jika kita sedikit bertanya atau menilik sejarah Rasul, sebenarnya tahu dari mana bahwa kapan rasul dilahirkan? Apakah memang ada hadits yang menjelaskannya atau dapat digunakan metode ruyat dan hisab dalam menghitung kelahiran Nabi Muhammad SAW, coba kita tilik sejarahnya yang dapat menambah wawasan, karena tanggal kelahiran ini sudah diperbincangkan oleh ulama-ulama masyhur terdahulu dan juga ulama-ulama zaman sekarang

Sejarah Maulid Nabi

Kita ketahui dari dulu bahwa saat Rasul lahir, seorang raja bernama Abrahah ingin menghancurkan kabah pada Tahun Gajah karena tempat ibadahnya di Yaman sana “kalah laku”. Pada saat ini pula rasul lahir yang berarti menurut sejarah Rasul lahir pada Tahun Gajah.
Di antara dalil yang memperkuat kelahiran Nabi saw jatuh di Tahun Gajah ialah hadits yang diriwayatkan Ibnu Ishaq yang berkata, “Muthallib bin Abdullah bin Qais bin Makhramah bercerita kepadaku, dari ayahnya, dari kakeknya Qais bin Makhramah yang berkata, ‘Aku dan Rasulullah n dilahirkan di Tahun Gajah. Kami berusia sebaya’.” Dzahabi dalam Tarikhul Islam, hal. 23, ia mengatakan, “Sanadnya baik.”

Dalil lain pada riwayat Ibnu Saad yang dinyatakan shahih,juga dalam buku sakti Ibnul Qayyim, Zadul Ma’ad, dinyatakan bahwa tidak ada perselisihan ulama bahwa Rasulullah lahir di Tahun Gajah. Jadi tentunya para ulama sepakat bahwa Nabi dengan jelas lahir pada Tahun Gajah, dan Tahun gajah dapat diketahui pada tahun berapa sebenarnya Tahun Gajah dalam Masehi

Bulan dan Hari Rasul Lahir

Para Ulama juga menyepakati bahwa Rasul lahir pada bulan Rabiul awal, dan hal ini didukung oleh banyak dalil. Dan bagaimana dengan hari Rasul lahir. Ternyata ada hadits yang menyebutkan dengan jelas bahwa beliau lahir pada hari senin. hadits riwayat Abu Qatadah bahwa Rasulullah saw ditanya tentang puasa hari Senin. Beliau menjawab, “Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus atau diturunkan wahyu (pertama) kepadaku.” Dengan data seperti ini,dapat diketahui dan dihitung bahwa rasul lahir pada tahun berapa dan tanggalnya juga dengan berbagai metode membadingkan berbagai macam sumber. Sehingga para ulama pun dari dahulu sudah memberikan pendapat tentang tanggal lahirnya rasul. Coba kita lihat pendapat para ulama.

Ibnu Katsir menuturkan, “Ada yang mengatakan pada malam kedua bulan Rabi’ul Awwal.
Ini dinyatakan Ibnu Abdil Bar dalam Al-Isti’ab dan diriwayatkan Waqidi dari Abu Ma’syar Najih bin Abdurrahman Al-Madani.

Ada juga yang mengatakan bahwa beliau lahir pada hari ke delapan bulan Rabi’ul Awwal. Pendapat ini diceritakan oleh Humaidi dari Ibnu Hazm dan diriwayatkan Malik, ‘Uqaili, Yunus bin Yazid dan lainnya dari Zuhri, dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im. Abu Khaththab bin Dihyah dalam kitabnya At-Tanwir fi Maulidil Basyirin Nadzir menguatkan pendapat kedua ini.

Ada lagi yang mengatakan beliau lahir pada sepuluh Rabi’ul Awwal. Pendapat ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dari Abu Ja’far Al-Baqir dan Mujalid dari Sya’bi.
Ada juga yang menyatakan bahawa beliau lahir tanggal 12 rabiul awal, ini ditegaskan Ibnu Ishaq dan diriwayatkan Abu Syaibah dalam Mushannaf-nya dari ‘Affan, dari Sa’id bin Mina, dari Jabir dan Ibnu Abbas. Namun hadits ini dhaif karena ada sanadnya yang terputus (oleh Ibnu Katsir dan juga dalam Sirah Ibnu Hisyam)

Pendapat yang benar dari Ibnu Hazm adalah pendapat yang menyatakan Rasul lahir tanggal delapan Rabi’ul Awwal, sebagaimana diceritakan oleh Humaidi. Dan inilah yang paling kuat. ”Ibnu Katsir menyebutkan bahwa banyak pendapat yang tidak didukung oleh dalil shahih".(Al Bidayah Wa-Al Nihayah, Ibnu Katsir, Azzam)

Ditengah beragam pendapat ini, ada baiknya kita melihat para pakar astronomi menilai pada hari senin di Tahun Gajah itu pada tanggal berapa? Banyak dari pakar yang menetapkan kelahiran beliau pada tanggal 9 atau malam ke-9 Rabi’ul Awwal. Di antaranya Ustadz Mahmud Basya (w. 1302 H) sebagaimana tertulis dalam catatan pinggir kitab Al-Kamil fit Tarikh, I : 270, karya Ibnu Atsir.

Abdullah bin Ibrahim bin Muhammad Sulaim dalam bukunya Taqwimul Azman fi Tahqiqi Maulidin Nabi, menyatakan sebagai berikut, “Diriwayatkan dalam kitab-kitab tarikh dan sirah bahwa Nabi saw. dilahirkan pada hari senin tanggal 10 Rabi’ul Awwal. Pendapat lain, tanggal 8 dan 12 Rabi’ul Awwal. Telah terbukti dari periwayatan yang shahih tanpa menyisakan keraguan bahwa beliau lahir pada 20 April 571 M (yang disebut juga sebagai Tahun Gajah). Juga telah terbukti melalui jalan periwayatan yang shahih bahwa hari wafat beliau jatuh pada tanggal 13 Rabi’ul Awwal tahun 11 Hijriah yang bertepatan dengan 8 Juni 632 M.
Selama tanggal-tanggal ini telah terbukti benar dan diakui, maka hari lahir dan wafat beliau dapat diketahui secara tepat, termasuk usia beliau. Yakni dengan mengubah jumlah tahun Masehi tersebut menjadi hari, hasilnya adalah 22.330 hari. Kemudian jumlah hari ini diubah menjadi tahun Hijriah, di mana perhitungan selisih hari setiap tahunnya dengan hitungan tertentu dan didapat kesimpulan. Dengan demikian, usia beliau saw. adalah 63 tahun 3 hari. Hasil hitungan ini sesuai dengan pendapat mayoritas ulama bahwa permulaan tahun hijriah (1 Muharram 1 H) jatuh pada tanggal 16 Juli menurut ru’yah, sedang menurut hisab tanggal 15 Juli. Atas dasar ini, hari lahir Nabi saw. jatuh pada hari senin 9 Rabi’ul Awwal tahun 53 sebelum hijrah dan bertepatan dengan 20 April 571, baik menurut ru’yah maupun hisab.”

Juga pada Sirah Nabawiyah yang saat ini banyak beredar(Juara 1 Lomba penulisan sirah rabitah Alam Al Islami (Dewan Ulama Dunia) dari Syaikh Shayifurrahman Mubarakfury pun menuliskan bahwa 9 Rabiul awal merupakan lahirnya Muhammad SAW didukung dengan dalil-dalil tentang Tahun Gajah, runtuhnya sepuluh balkon istana Kisra, padamnya api yang biasa disembah oleh orang-orang Majusi, dan runtuhnya beberapa gereja di sekitar Buhairah yang diketahui melalui hadits dan juga catatan sejarah.Dan juga menggabungkan penelitian ilmiah ahli-ahli astronomi.

Hal yang menarik ialah ketika perayaan Maulid sering dipaparkan, bahwa kita harus mempelajari sirah Nabi. Dengan mempelajari sirah dengan baik,maka akan menambah wawasan kita dan mengambil pelajaran dari sejarah. Bahwa kita harus sering mencari tahu, bahwa tidak semua yang kita ketahui memang benar, apalagi dalam hal sejarah. Sejarah memang tidak dapat dipastikan kebenarannya, tidak seperti periwayatan hadits shahih dan hasan yang dalam metodenya akan jelas sampai kepada orang yang meriwayatkannya pertama kali. Jika sejarah, riwayat-riwayatnya tidak dapat disusuri, namun dapat diteliti dengan catatan-catatan, juga peninggalan.

Wallahu a'lam

Rujukan:
Al Bidayah wa al Nihayah, Ibnu Katsir
Sirah Nabawiyah, Syaifurrahman Mubarakfury

Ma Sya’a wa lam Yatsbutu fi As-sirah An-Nabawiyyah, Muhammad bin Abdulah Al-Usyan

[fb/rl]

sumber : islamedia.web.id
10.27

Mewaspadai Rintangan Internal

Oleh: M. Indra Kurniawan 





Yusuf Qaradhawi dalam bukunya al-Hall al-Islami: Faridhatun wa Dharuratun, menjelaskan tentang penghalang dan rintangan yang menjadi duri untuk mencapai sasaran dan tujuan gerakan perubahan. Ada banyak faktor. Salah satunya adala faktor internal, rintangan dari dalam komunitas pengemban perubahan itu sendiri.

Qaradhawi menyebut rintangan yang timbul dari dalam pergerakan ini sebagai ‘rintangan yang sangat berbahaya’ diantaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, perbedaan pemahaman, sikap, tujuan, dan sebagainya, yang dapat menghancurkan bangunan kesatuan pemikiran dan perasaan, moral dan sikap pergerakan. Ini merupakan awal kegagalan dan keruntuhan, serta memberi jalan bagi musuh untuk menerobos serta menghancurkan dari dalam. Inilah yang dilarang Allah dan Rasul-Nya,

Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”(QS. Al-Anfal: 46)

Karena itu, pendiri gerakan Islam modern, Hasan Al-Banna, sering memperingatkan pengikutnya tentang perbedaan dan perpecahan, ia berkata: “Saya tidak mengkhawatirkan dari serangan musuh kalian, tetapi saya mengkhawatirkan sesuatu yang berasal dari diri kalian sendiri. Saya tidak mengkhawatirkan kalian dari serangan bangsa Inggris, tidak pula Amerika, Rusia dan lainnya. Saya hanya khawatir dalam diri kalian ada dua perkara: Pertama, jiwa yang kosong dari mengingat Allah, sehingga Allah menjauhi kalian. Kedua,kalian berpecah belah tentang urusan yang ada pada kalian. Janganlah kalian bersepakat, kecuali setelah hilangnya kesempatan untuk berselisih.”

Kedua, cinta pada dunia. Cinta pada dunia akan membuka lorong-lorong setan jin dan manusia. Mereka akan menerobos ke dalam hati para juru dakwah, lalu memasukkan mereka ke dalam permainan jabatan dan kesibukan mencari dunia. Ini adalah penyakit wahn yang dapat melemahkan setiap individu dan umat. Inilah yang diperingatkan Rasulullah saw,

Rasulullah bersabda: “Akan datang suatu masa kepada kalian dimana bangsa-bangsa akan memperebutkan kalian layaknya memperebutkan makanan yang dihidangkan.” Ditanya Rasulullah: “Apakah jumlah kita pada saat itu sedikit Ya rasulullah?”, Rasulullah menjawab: “Bahkan jumlah kalian pada saat itu banyak, akan tetapi banyaknya kalian seperti buih di lautan, dan telah tertanam dalam diri kalian al-wahn (kelemahan).” Ditanya lagi Nabi saw: “Apakah al-wahn itu wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud)

Ketiga, cinta pujian atau gila popularitas. Maksudnya adalah senang unjuk diri dan menampakan kekuatan. Qaradhawi mengatakan, anggota gerakan Islam yang seperti ini tidak akan mau bergerak kecuali ditempatkan di bagian inti atau di barisan terdepan. Ia bergerak untuk mencari ketenaran dan sanjungan. Ini adalah malapetaka bagi gerakan perubahan. Seharusnya siapapun menyadari, kadangkala orang yang berambut kusut dan usang serta tidak memperhatikan dirinya sendiri lebih mulia menurut Allah, karena kebaikan-kebaikan yang dilakukannya dengan ikhlas. Kemenangan seringkali dapat diraih berkat bantuan prajurit yang tidak dikenal publik. Rasulullah bersabda, “Bahwasanya Allah SWT mencintai orang yang senantiasa berbuat baik, bertaqwa, dan bersembunyi dalam kebaikannya. Jika hadir, mereka tidak diketahui, jika tidak hadir, orang-orang tidak merasa kehilangan.”

Keempat, memisahkan diri dari masyarakat (bersikap eksklusif). Penyakit ini jelas menjadi rintangan besar bagi proyek perubahan. Antara aktivis dengan masyarakat seolah ada dinding pemisah. Hal ini menyebabkan masyarakat selalu curiga dan menganggap kaum pergerakan sebagai kelompok sesat dan merusak.

Kelima, sikap jumud. Maksudnya adalah mematenkan satu metode dalam pergerakan dakwah, padahal metode itu sudah melemah pengaruhnya. Seharusnya sebuah gerakan dakwah mampu bersikap fleksibel dalam menggunakan sarana, uslub, dan bentuk dakwah, karena sikap fleksibel merupakan bukti semangat, segarnya pemikiran, keluasan wawasan, dan kelapangan jiwa. Inilah yang mampu melawan dan memperdaya musuh-musuh dakwah. Metode dan uslub harus sesuai dengan perkembangan zaman, tentu saja dengan tetap memperhatikan nash dan kaidah-kaidah Islam. Dunia telah berubah, kehidupan telah berkembang, dan sesuatu yang ada pada zaman dahulu tidaklah selalu sesuai dengan apa yang ada sekarang.

sumber : intimagazine.wordpress.com
09.53

Hukum Beli Darah di PMI

Gambar dari clipartof.com
عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِى جُحَيْفَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ اشْتَرَى غُلاَمًا حَجَّامًا فَقَالَ إِنَّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - نَهَى عَنْ ثَمَنِ الدَّمِ ، وَثَمَنِ الْكَلْبِ ، وَكَسْبِ الْبَغِىِّ ، وَلَعَنَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ وَالْمُصَوِّرَ

Dari Aun bin Abi Juhaifah dari ayahnya, Abu Juhaifah, bahwasanya beliau membeli seorang budak laki-laki yang memiliki keterampilan membekam. Abu Juhaifah mengatakan bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang pendapatan dari darah, pendapatan dari jual beli anjing, dan penghasilan pelacur. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga melaknat pemakan riba, nasabah riba, orang yang menato, orang yang minta ditato, dan orang yang membuat patung atau gambar yang terlarang. (HR. Bukhari, no. 5617)

Hadis di atas merupakan salah satu dalil tegas yang menunjukkan haramnya pendapatan yang didapat dari darah. Pendapatan dari darah ini mencakup:

1. Upah yang didapatkan oleh tukang bekam karena membekam.

2. Jual beli darah untuk tujuan konsumsi. Di sebagian warung angkringkan, dijumpai “didih” (darah yang digoreng) yang diperjualbelikan.

3. Jual beli darah manusia. Sebagian tukang becak yang mangkal di sebagian rumah sakit merupakan contoh orang yang menjadikan kegiatan “menjual darah” sebagai profesi mereka. Setiap beberapa bulan sekali, mereka mendonorkan darahnya dengan upah sejumlah uang tertentu. Ini termasuk jual beli darah yang merupakan perkara haram menurut semua ulama, sebagaimana penuturan Ibnu Abdil Bar Al-Maliki. Demikian pula, termasuk jual beli darah adalah sikap sebagian orang yang tidak mau mendonorkan darahnya kepada orang yang membutuhkannya karena keperluan operasi atau lainnya, kecuali dengan upah tertentu.

Jadi, donor darah dengan upah sejumlah uang tertentu adalah suatu hal yang haram. Sedangkan, donor darah secara suka rela tanpa imbalan apa pun adalah amal kebajikan yang berpahala.

Pertanyaan, “Apakah donor darah itu berpahala? Apakah donor darah itu termasuk dalam firman Allah (yang artinya), 'Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia, semuanya.' (QS. Al-Maidah:32)? Berilah kami pencerahan.”

Jawaban Syekh Abdullah Al-Jibrin, “Donor darah itu tidaklah terkenal di masa silam. Oleh karenanya, para dokter masa silam dan orang-orang terdahulu tidak pernah menyebut-nyebut metode pengobatan dengan “memasukkan darah ke saluran darah”. Donor darah hanya dijumpai dalam metode pengobatan modern. Tidaklah diragukan bahwa doroh darah adalah sebuah metode yang memiliki pengaruh dan manfaat serta mempengaruhi kondisi si sakit. Karenanya, donor darah adalah metode pengobatan yang diperbolehkan dan terkenal.

Tidaklah diragukan bahwa orang yang mendonorkan sebagian darahnya yang berlebih, tanpa membahayakan tubuhnya, untuk menyelamatkan orang yang sakit keras dan menjadi sebab hilang atau berkurangnya penyakit, adalah suatu amal yang berpahala jika dilakukan dengan ikhlas karena Allah semata. Boleh jadi, donor darah termasuk dalam ayat di atas, dengan syarat terwujudnya kesembuhan atau tidak sangat tergantung dengan donor darah tersebut, jika Allah mengizinkannya.

Banyak ulama terdahulu yang berfatwa melarang pengobatan dengan darah, dengan alasan, darah itu najis sehingga haram dimasukkan ke dalam tubuh, ditambah lagi adanya hadis yang mengatakan bahwa Allah tidaklah meletakkan kesembuhan umat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hal yang haram.

Akan tetapi, dengan menimbang bahwa manfaat donor darah adalah suatu yang terbukti, terlebih lagi bahwa dokter yang menangani pasien yang membutuhkan tambahan darah tidaklah bersentuhan langsung dengan darah, sehingga para ulama generasi belakangan menganjurkan donor darah. Mereka membolehkan dengan alasan “darurat”, atau dengan alasan bahwa pengobatan dengan donor darah adalah cara pengobatan yang bermanfaat dengan sesuatu yang belum jelas keharamannya.” (Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah fi Al-Masail Ath-Thibbiyyah, juz 2, hlm. 23)

Walhasil, jika kesembuhan seseorang dari penyakit yang mengancam jiwanya itu sangat tergantung dengan adanya tambahan darah maka donor darah termasuk dalam QS. Al-Maidah: 32.

Dalam kondisi tertentu, seorang yang sangat membutuhkan tambahan darah itu tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan membeli kantong darah di PMI (Palang Merah Indonesia), misalnya. Dengan alasan ini, apakah kita boleh membeli kantong darah di PMI?

Jawabannya, “Jika seseorang berada dalam kondisi tidak bisa mendapatkan darah kecuali dengan membelinya, maka membeli darah itu tidaklah mengapa, dengan alasan kondisi darurat. Yang berdosa hanyalah orang yang menjualnya dan memakan hasilnya.” (Tamam Al-Minnah fi Fiqh Al-Kitab wa Shahih As-Sunnah, jilid 3, hlm. 302)

sumber : www.pengusahamuslim.com
08.42

[Ruhaniyat Tarbawi] Hingga Titik Akhir Perjalanan

Saudaraku, renungkanlah...
Saat ini kita berada di awal tahun. Ketika kita baru saja mengiringi kepergian satu tahun berlalu. Bagaimana Allah SWT menghadiahkan ampunan begitu besar terkait perilaku salah yang sudah kita lakukan dalam rentang satu tahun yang lalu. Mengapa begitu luar biasa Allah SWT menghamparkan pahala ampunan itu? Disaat kita baru mengawali tahun yang berbeda. Disaat kita baru saja melepas tahun yang telah lewat. Apa hikmah yang ada di balik limpahan maghfirah yang Allah berikan di awal tahun seperti ini?

Saudaraku,
Barangkali di antara hikmahnya adalah Allah SWT memang hendak mengajak kita mengingat-ingat dan menghitung lebih teliti tentang jarak kekeliruan yang kita lakukan selama 12 bulan lalu.

Saudaraku, marilah kita bertafakur sekarang...
Tahukah kita bila dalam satu tahun lalu kita melakukan shalat wajib lebih dari 1700 kali? Lalu beberapa banyak shalat-shalat itu, yang kita lakukan dengan khusyuk? Berapa banyak dari shalat-shalat itu yang kita tunaikan di awal waktu, sesuai anjuran Rasulullah SAW? Berapa banyak dari shalat-shalat itu yang kita lakukan dengan berjama'ah di masjid?

Dalam rentang satu tahun kemarin, kita telah melewati lebih dari 50 hari Senin, 50 hari Kamis, 30 kali hari-hari ayyamul bidh atau hari-hari putih selama tiga hari di pertengahan bulan yang kita disunnahkan untuk berpuasa. Berapa jauh jarak yang telah kita buat yang bisa menjauhkan antara wajah kita dari api neraka? Karena sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah, kecuali karena puasanya itu Allah akan menjauhkan antara wajahnya dengan api neraka sepanjang 70 tahun." (HR. Muslim).

Terpikirkankah oleh kita, bila selama rentang waktu satu tahun kemarin, matahari telah terbit mengunjungi kita sebanyak 350 kali? Sementara Rasulullah SAW bersabda, "Setiap persendian manusia harus ditunaikan shadaqah-nya, setiap hari, setiap terbit di dalamnya matahari…"

Saudaraku, semoga Allah menghimpun kita dalam surganya...
Apakah kita telah membaca Al-Qur'an dengan tadabbur 12 kali khatam dalam 12 bulan itu? Atau paling minimal 6 kali dalam satu tahun? Jika tidak, mungkin kita patut khawatir termasuk dalam kelompok orang-orang yang dikeluhkan Rasulullah SAW kepada Allah SWT di hari kiamat. Ketika ia berkata, "Ya Rabb, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur'an sebagai sesuatu yang dijauhkan..."

Saudaraku,
Tahukah kita apa yang bisa dilakukan dalam satu menit hidup ini? Kita bisa membaca surat Al-Fatihah minimal 4 kali. Dan artinya kita memperoleh lebih dari 5000 kebaikan. Kita bisa membaca surat Al-Ikhlash 9 kali. Satu surat Al-ikhlash sama dengan sepertiga Al-Qur'an. Kita bisa membaca satu halaman Al-Qur'an atau menghafal satu surat pendek dari Al-Qur'an.

Kita bisa mengatakan laa ilaaha illallaah wahdahuu laa syariikala lahul mulku wa lahul hamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa'aala kulli syai'in qadiir 10 kali. Pahala melakukannya sama seperti memerdekakan 4 orang budak. Kita bisa mengucapkan subhanallaah wabihamdihi 50 kali. Dan dengan menyempurnakannya menjadi 100 kali, maka dosa-dosa kita akan diampuni Allah SWT meski sebanyak buih di laut.

Kita bisa mengucapkan subhanallaah wa bihamdihi, subhanallaahil azhiim 20 kali. Itulah dua kalimat yang ringan diucapkan lisan tapi berat timbangannya disisi Allah SWT. Kita bisa mengatakan subhanallaah, alhamdulillaah, laa ilaaha illallaah, allaahu akbar, minimal 15 kali. Itulah kalimat paling dicintai Allah SWT.

Kita bisa mengatakan laa ilaaha illallaah 45 kali. Kalimat paling mulia dan barang siapa yang perkataan terakhirnya laa ilaaha illallaah, ia pasti masuk surga. Kita bisa berdzikir dengan mengucapkan astaghfirullaah sebanyak 70 kali. Perkataan itu yang akan menyebabkan turunnya ampunan, masuknya seseorang ke dalam surga, menolak bencana, menambah rezeki, mempermudah semua urusan.

Kita bisa membaca shalawat kepada nabi Muhammad SAW sebanyak 20 kali, lalu malaikat bershalawat kepada kita 200 kali. Kita bisa bertafakur terhadap penciptaan langit dan bumi lalu kita menjadi kelompok ulil albaab yang dipuji oleh Allah dalam Al-Qur'an. Kita bisa membaca buku yang bermanfaat sehingga ilmu kita bertambah dan menjadi penerang jalan menuju surga. Kita bisa mengajak orang lain pada kebaikan, bisa mencegahnya dari kemungkaran, bisa tersenyum yang bernilai shadaqah, bisa meringankan beban orang lain, dan sebagainya.

Saudaraku,
Kita terus menerus berada di antara perguliran waktu yang tidak pernah berhenti. Tapi mungkin kita jarang yang menyadari pergulirannya, kecuali di saat-saat tertentu seperti saat ini. Rasakanlah bagaimana perguliran detik demi detik. Pertambahan menit demi menit. Jam demi jam. Perjalanan hari demi hari. Bulan demi bulan. Hingga tahun berganti tahun. Dan kita sampai di detik, menit, jam, hari, bulan, tahun ini. Apa yang harus kita lakukan pada detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun ini?

Saudaraku,
Jangan biarkan waktu demi waktu bertambah, tapi tidak membawa kita pada titik surga. Sebab, itulah sesungguhnya akhir perguliran waktu hidup kita. Itulah titik akhir perjalanan waktu. Karena setelahnya, detik, menit, jam, hari, bulan, tahun tidak pernah ada dan tak pernah berarti lagi.
07.55

Masya Allah, Israel akan Bangun Tembok Ratapan di Kawasan Muslim

Yahudi Ortodok melintas di kawasan permukiman Muslim di Al Quds (Jerusalem)
Tembok Ratapan Barat
Ulah terbaru Israel memicu lagi kemarahan rakyat Palestina. Negara itu berencana membuka tempat Ibadah baru bagi Yahudi di jantung kota Jerusalem, tepatnya di bagian pemukiman Muslim di Kota Tua Al Quds.

Pejabat Kota baru-baru ini memerintahkan pemindahan struktur penopang yang digunakan sebagai pendukung lorong-lorong di bawah rumah-rumah penduduk Palestina. Pembersihan itu memungkinkan penganut Yahudi untuk beribadah di lokasi yang tepatnya berada kurang dari seratus meter di utara Tembok Ratapan Barat, salah satu situs Yudaisme paling sakral sekaligus ramai dikunjungi.

Waqf, yang memantau dan mengelola administrasi tempat-tempat suci Islam di Jerusalem Timur, menyatakan mengancam mengeluarkan respon keras jika Israel nekad memfungsikan tempat ibadah baru itu.

Palestina menganggap Jerusalem Timur atau Al Quds sebagai ibu kota negara masa depan mereka. Mereka memandang ulah tersebut adalah upaya dan klaim Israel yang sejak lama ingin mencaplok tempat-tempat suci itu dari Muslim Palestina.

Tempat ibadah baru itu memang sengaja diletakkan di area Muslim yang dikelilingi rumah-rumah Palestina. Jalan itu dulu kerap digunakan oleh Yahudi Ultra-Orthodoks, hingga menyebabkan ketegangan di Kota Tua.

Dengan rencana pembangunan tempat ibadah baru bagi Yahudi, penduduk Palestina pun kerap melaporkan adanya ancaman dan bahkan diminta meninggalkan rumah dan toko-toko mereka ketika para Yahudi datang untuk beribadah di lingkungan tersebut.

Padahal ada 17 keluarga yang tinggal dalam lingkup area tersebut. Salah satu warga Palestina, Khadir, mengatakan tempat ibadah Yahudi di lingkungan penduduk Palestina tidak bisa diterima.

Pada 1971, Israel pernah membangun terowongan bawah tanah pertama di bawah masjid Al Aqs hingga menyebabkan banyak bangunan milik warga Palestina hampir rubuh. Israel kemudian membangun struktur penopang untuk mencegah bangunan-bangunan itu ambruk, namun kini mereka memutuskan untuk menghilangkan.

Israel memang belum menyatakan tembok di ruang terbuka kecil di sisi barat itu sebagai tempat suci. Namun, terlepas dari keberatan penduduk Palestina, organisasi Yahudi ultrakanan, Ateret Cohanim, telah menuntut agar area itu dibersihkan dan penopang dihilangkan demi menyediakan ruang untuk beribadah.

Langkah itu tentu sangat sulit. Mengingat Israel terus menggerogoti tanah Palestina, rakyat Palestina pun menyatakan akan terus memperjuangkan kawasan yang tersisa sekaligus situs Islam paling suci ketiga, Masjid Al Aqsa. Bersamaan dengan itu militer Israel melaporkan lewat radio bahwa konstruksi sekitar 1.400 hunian di dekat kawasan Gilo, pinggiran bagian selatan Yerusalem Timur hendak disahkan.

seumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/11/01/18/159242-masya-allah-israel-akan-bangun-tembok-ratapan-di-permukiman-palestina
07.51

Pinisi ke Gaza Kurang Dana

Sebuah kisah menyebutkan bahwa kapal Pinisi sudah digunakan pelaut Sulawesi untuk mengarungi lautan hingga ke daratan Afrika sejak berabad lampau. Menurut naskah Lontarak I Babad La Lagaligo yang disusun abad ke-14, Pinisi pertama dibuat oleh Sawerigading, Putra Mahkota Kerajaan Luwu, untuk berlayar menuju negeri Tiongkok.

Tujuannya adalah meminang putri Tiongkok yang bernama We Cudai. Pinisi dikenal sebagai kapal layar tradisional yang mampu membelah samudra ganas. Meskipun terbuat dari kayu, namun fondasi dan rangka induk dari kapal tersebut dirancang dengan sangat kuat untuk pelayaran jarak jauh.

Kekuatannya tidak kalah dengan kapal-kapal Eropa milik Christopher Colombus yang menyeberangi Atlantik hingga menemukan Benua Amerika. Ketangguhan Pinisi inilah yang akan dipinjam oleh para relawan Mer-C (Medical Emergency Rescue Committee) untuk kembali menjalankan misi menembus blokade Gaza.

"Kita punya rencana untuk berlayar dari Indonesia ke Gaza. Kita coba cari Pinisi," kata Relawan Mer-C Joserizal Jurnalis di Jakarta, pekan lalu.

Gerakan Freedom Flotilla (Armada Kebebasan) yang berisi kapal-kapal pengangkut bantuan untuk menembus blokade Israel atas perairan wilayah Gaza di Palestina, akan kembali digerakkan para relawan dunia pada akhir Mei 2011 nanti, tepat setahun setelah upaya enam kapal Freedom Flotilla I menembus perairan Gaza Mei 2010 lalu.

Serangan pasukan elite Israel atas kapal-kapal Freedom Flotilla I mengakibatkan tewasnya sembilan aktivis perdamaian di atas kapal feri Mavi Marmara yang disewa LSM IHH dari Turki. Kecaman keras dunia terhadap Israel membuat blokade atas Gaza sedikit melonggar.

Oleh karena itu, untuk kedua kalinya, pelayaran untuk pembebasan Gaza akan kembali dilakukan. Kali ini dalam armada lebih besar, bisa mencapai puluhan kapal. Jika sebelumnya relawan Indonesia menumpang kapal relawan negara lain, kali ini ketangguhan Pinisi akan coba dijajal untuk mengarungi lautan menuju Gaza.

Namun, kendala klasik masih menghadang. "Kita sudah jajaki perahu Pinisinya. Kalau duitnya ada kita langsung bergerak. Kita masih terkendala dana. Saat ini baru terkumpul Rp 2 miliar," kata Joserizal. Untuk bisa berlayar dengan menggunakan Pinisi untuk mengangkut bantuan ke Gaza, Mer-C membutuhkan dana sekitar Rp 5 miliar.

Duit sebesar itu hanya cukup digunakan untuk pelayaran sekali jalan saja. "One way ticket," ujar Joserizal. Para peserta yang nantinya bergabung dalam Pinisi tersebut harus siap dengan segala risiko. Termasuk nasib mereka untuk bisa pulang kembali ke Tanah Air.

Para penumpang armada Freedom Flotilla I diekstradisi Pemerintah Israel baik langsung maupun tak langsung. Relawan dari Indonesia saat itu ada yang diekstradisi melalui Turki dan Yordania.

Dalam perhitungan Joserizal, pelayaran dari Indonesia menuju Gaza membutuhkan waktu sekitar 45 hari. Jalur yang akan dipakai dimulai dari Jakarta, kapal kemudian berlayar menyusuri Samudra Hindia di selatan India hingga menuju ke perairan Somalia. Nah, di sinilah mereka harus waspada mengingat kawasan ini paling rawan bajak laut.

Bila lancar, kapal kemudian menyusuri tanduk Afrika ke utara masuk Laut Merah sampai Terusan Suez. Setelah melalui Terusan Suez, Pinisi akan berkumpul dengan puluhan kapal dari berbagai negara untuk membentuk armada kemanusiaan di dekat perairan Gaza, di bagian timur dari Laut Tengah.

Guna menjaring para relawan, Mer-C merangkul organisasi pecinta alam Wanadri yang akan membantu menyiapkan fisik dan mental relawan dalam menghadapi segala situasi di atas kapal. Pada misi pelayaran ini, relawan Indonesia akan membawa bantuan untuk warga Gaza dan bahan bantuan untuk proyek pembangunan rumah sakit di Gaza.

Rumah sakit merupakan salah satu proyek nyata relawan Indonesia dan pihak Kementerian Kesehatan Palestina. Rumah sakit yang rencananya dibangun dua lantai itu akan sangat membantu warga Gaza bila kembali terjadi agresi militer Israel.

Pada misi Freedom Flotilla tahun 2010, beberapa bahan bangunan sebenarnya sempat dibawa oleh para relawan. Namun, karena insiden kapal Mavi Marmara, bahan bangunan yang sedianya untuk peletakan batu pertama itu tertahan. Proses pengiriman kemudian diubah melalui jalur darat.

Saat ini semua persiapan terkait pembangunan rumah sakit itu sudah rampung. Sebanyak lima orang relawan sudah berada di Gaza untuk mengawasi proyek tersebut. Mereka akan disusul oleh tim teknis pada Februari nanti. Bulan ini Kementerian Kesehatan Palestina tinggal melakukan tender untuk menentukan kontraktor yang akan membangun rumah sakit itu.

Menggunakan kapal akan sangat memudahkan untuk membawa bahan bangunan. Akan tetapi, jika dana tidak mencukupi, para relawan ini memilih untuk kembali mengambil jalur darat dengan konsekuensi bahan bangunan yang dibawa jauh lebih sedikit.

Sejak 2007, Israel menerapkan blokade dengan ru mus matematika tertentu yang membatasi arus barang kebutuhan pokok bagi 1,3 juta warga Gaza tetap bisa masuk dengan kuantitas yang tepat sesuai yang diinginkan Israel, tak lebih dan tak kurang.

“Aturan untuk impor barang disusun sesuai keputusan kabinet yang membatasi kuantitas dan tipe barang tertentu masuk ke Gaza,” kata dokumen rahasia Israel yang dirilis awal bulan ini seperti dikutip Harian Haaretz.

Rumus itu memberikan batas atas bagi produk yang kemungkinan jumlahnya surplus dan batas bawah bagi produk yang kemungkinan jumlahnya minus. Seorang pejabat senior COGAT mengatakan bahwa batas atas praktis tak pernah terpakai. Ini berarti Gaza memang benar-benar tak pernah menikmati kelebihan bahan pokok.

sumber : http://koran.republika.co.id/koran/14/127357/Pinisi_ke_Gaza_Kurang_Dana
07.45

Perumusan UU KUB Harus Gunakan Pendekatan Agama

Rencana penyusunan undang-undang kerukunan umat beragama (KUB) harus menggunakan pendekatan agama dan meminimalisir pendekatan politik. Sebab, pendekatan agama dan politik mempunyai landasan filosofi yang berbeda. Demikian disampaikan oleh Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama (Kemenag), Abdul Fatah.”Pendekatan agama mengedepankan moral sedangkan politik lebih memggunakan logika kepentingan karena itu harus diminimalisir dan ,”kata dia kepada Republika di Jakarta, Selasa (18/1)

Namun demikian diakui, papar Abdul, peran politik tidak bisa dinafikan guna melegalkan sebuah regulasi apalagi rencana perumusan UU KUB adalah inisiatitf DPR sebagai langkah penguatan KUB di Indonesia. Keberadaan UU KUB dianggap sangat mendesak terlebih bagi para aparat penegak hukum agar mempunyai pedoman dan acuan yang lebih kuat. Diharapkan, UU KUB itu nantinya menjadikan Peraturan Bersama Menteri PBM sebagai rujukan utama karena sejumlah aturan-aturan yang tertuang di dalamnya merupakan kesepakatan para pemuka agama yang tergabung dalam majelis agama masing-masing.”Posisi pemerintah saat itu hanya sebagai fasilitator,”kata dia.

Paling penting, dikatakan Abdul, perumusan UU KUB harus didasari dengan semangat kebersamaan dan saling mempercayai antarpemeluk, pemuka, dan majelis agama. Kepercayaan dan kebersamaan merupakan modal penting untuk membina KUB. Tanpa kedua hal tersebut, sulit untuk menjaga keharmonisan dan komunikasi antarumat beragama di Tanah Air. Pasalnya, kepercayaan dan kebersamaan rentan terkikis oleh berbagai problematika tidak hanya terkait agama tetapi menyangkut pula ekonomi, sosial, budaya, dan politik.“Kalau semangat saling percaya merasa bersama-sama saya kira baru rukun namanya,”papar dia.

Anggota Komisi VIII DPR-RI dari F PDIP, Zainun Ahmadi, mengungkapkan pembahasan RUU KUB menjadi salah satu program legislasi nasional (prolegnas) DPR-RI di komisi VIII. Bahkan, RUU KUB menduduki prioritas bahasan utama di DPR-RI yang harus selesai di tahun 2011.

Zainun menjelaskan, percepatan pembahasan ini dilatarbelakangi oleh maraknya berbagai peristiwa yang mencoreng keharmonisan dan kerukunan di sepanjang tahun 2010 silam. Apalagi, ditengari persoalan tersebut muncul akibat ketidakpatuhan sebagian umat pada PBM tersebut. Terutama permasalahan menyangkut pendirian rumah ibadat. “Padahal jika dibandingkan dengan pendirian rumah ibadah agama lain, rumah ibadah umat Islam jauh lebih rendah pertumbuhannya,”kata dia

Zainun menilai regulasi yang ada sekarang sudah cukup bagus. Tinggal masalahnya ditingkatkan lagi menjadi aturan yang kuat dan mengikat semua pihak. Karenanya, perumusan UU KUB akan mengadopsi materi-materi PMB selain diperkuat dengan fakta dan kebutuhan yang berkembagan di masyarakat. Kehadiran UU KUB kelak bukan berarti membatasi kebebasan menjalankan ibadah tetapi justru memberikan hak menjalankan ibadah.

UU KUB ditambahkan Zainun, akan memperkuat pula etika dan tatakrama melaksanakan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing. Tanpa mencederai perasaan dan merusak keharmonisan umat beragama. Sehingga diharapkan, ke depan UU KUB akan mampu mengurangi gesekan-gesekan antarumat beragama dan menjaga kerukunan agar tetap utuh baik antarumat seagama ataupun dengan pemeluk agama lain. “Gesekan-gesekan karena persoalan rumah ibadah dan etika beribadah akan bisa terkurangi dengan regulasi yang kuat dan mengikat,”ungkap dia.

sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/11/01/18/159280-perumusan-uu-kub-harus-gunakan-pendekatan-agama
07.42

Tank-tank Israel serbu Jalur Gaza

Militan Palestina menghadiri pemakaman seorang warga yang tewas ditembak tank Israel
Tank-tank Israel kembali memasuki Jalur Gaza, memicu pertempuran yang menewaskan seorang Palestina dan melukai dua lainnya.

Kantor berita AFP melaporkan, tujuh tank menyerbu sampai sedalam 200 meter di wilayah Palestina hari Selasa yang kemudian memicu penembakan dari kelompok militan.

Laporan lain menyebutkan kendaraan lapis baja dan buldozer juga terlibat dalam penyerbuan itu.

Juru bicara Hamas Adham Abu Salmiya mengatakan Amjad al-Zaanein (23 tahun) tewas oleh tembakan tentara Israel di sebelah timur Beith Hanoun.

Warga Palestina mengatakan korban sedang mengumpulkan batu untuk dijadikan bata saat mereka ditembaki.

Militer Israel tidak memberikan komentar atas penembakan tank itu namun menyatakan militan Gaza menembak empat kali ke arah Israel Selasa pagi.

Kekerasan lintas perbatasan meningkat dalam beberapa pekan ini.

Hamas, kelompok Islam yang menguasai Gaza, mengimbau agar tenang serta mendesak faksi militan menghentikan serangan terhadap Israel.

Dua tahun lalu perang di Gaza menewaskan 1.300 orang Palestina dan 13 orang Israel.

sumber : http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2011/01/110118_israelgaza.shtml
11.59

Menggapai Keseimbangan Hidup

"Betapa sulitnya melanggengkan qiyamullail sambil pula mewujudkan sifat wara’ dan tetap menggeluti dunia ilmu dengan mengarang, menulis dan berkreasi. Betapa menyesalnya ketika aku tidak mampu menyempatkan diri berkhalwat menyendiri bermunajat kepada Allah karena disibukkan oleh urusan mengajar dan berbaur dengan sesama manusia. Betapa lemahnya sifat wara’ ketika dicampuri dengan mencari nafkah untuk keluarga. Padahal aku telah merelakan tersiksa karenanya ...”


Manusia menjalani hidup dengan berbagai kecenderungan dan hasrat. Keduanya merupakan software penting bagi manusia yang telah dianugerahkan oleh Allah swt. Pertanggung jawaban amal manusia di hari akhir, sangat berhubungan erat dengan benar atau tidaknya ia mengarahkan kecenderungan dan hasrat itu. Ketika kecenderungan dan hasrat – atau apapun dengan bahasa yang serupa dengan keduanya – itu hilang dalam diri manusia, maka saat itu pula ia berubah menjadi robot. Setiap orang tentu memiliki cita-cita dan tujuan hidup masing-masing dan ia akan berusaha memenuhi dan mewujudkan cita-cita dan tujuan hidup itu. Apapun motifnya baik yang mengharapkan ridho Allah maupun yang mencintai dunia.

Begitupun kalimat diatas. Kalimat tersebut secara implisit menunjukkan betapa pentingnya menyeimbangkan antara berbagai kecenderungan dalam diri. Seorang ulama salaf shaleh terkemuka, Imam Ibnu Jauzi dalam buku “Shaidul Khatir” mengungkapkan hal tersebut.

Bagi seorang muslim, kecenderungan-kecenderungan ke arah kebaikan tumbuh menjamur seiring berkembangnya pemahaman terhadap Islam. “Cita-citaku adalah keinginan hidup yang tidak terbatas.”, begitu Imam Hasan Al Banna menggambarkan tingginya cita-cita seorang Muslim, baik terhadap diri, ummat dan dien Islam tercinta. Namun tentu cita-cita, kecenderungan dan hasrat tadi harus mampu direalisasi secara adil, proporsional dan seimbang. Sebab kemenangan da’wah tidak hanya disebabkan oleh Qiyamulail dan munajat tanpa menuntut ilmu, bekerja dan berinteraksi dengan manusia.

Belajar dari Kegagalan Menjaga Keseimbangan

John Naisbitt dalam buku “High Tech High Touch” menceritakan kisah Amerika yang tealh mengalami transformasi – terhadap pemanfaatan teknologi – dari tempat yang nyaman secara teknologi menjadi zona mabuk teknologi. Banyak manusia begitu terbuai oleh kesenangan dan janji teknologi yang begitu menggiurkan, sampai-sampai lupa mengindahkan berbagai konsekuensi teknologi dan bertanya-tanya mengapa masa depan nampaknya sulit diramalkan. Mereka juga memberi status khusus pada teknologi seolah-olah teknologi adalah suatu hukum alam.

Banyak orang memberikan hak yang tak dapat dicabut yang membuat kehidupan mereka sehari-hari, pengalaman formatif mereka, bahkan dunia alami mereka, “diatur” oleh piranti lunak yang kian lama kian canggih. Gejala mabuk teknologi tinggi ini ditandai dengan hubungan yang rumit dan sering kali bertentangan antara teknologi dan pencarian mereka akan makna. Gejala-gejala tersebut antara lain : mereka lebih menyukai penyelesaian masalah secara kilat, dari masalah agama sampai masalah gizi, mereka takut sekaligus memuja teknologi; mereka mengaburkan perbedaan antara yang nyata dengan yang semu; mereka menerima kekerasan sebagai sesuatu yang wajar, mereka mencintai teknologi dalam wujud mainan, mereka menjalani kehidupan yang berjarak dan terenggut.

Amerika telah menjadi masyarakat peminum obat tanpa resep denga mentalitas mengagungkan suplemen dalam segala aspek kehidupan – apa saja, dari agama hingga gizi. Dalam upaya tanpa sadar untuk melepaskan diri dari zona mabuk teknologi, orang Amerika menelan suplemen sekitar 10 miliar pil setiap tahun. Tak kalah lucunya, orang Amerika membelanjakan lebih dari $ 700 juta per tahun untuk vitamin cepat manjur, namun rata-rata hanya makan buah kurang dari satu per hari.

Ketakutan, sekaligus pemujaan mereka terhadap teknologi sangat tampak saat menyambut datangnya milenium baru. Ketakutan tersebut tersalurkan menjadi Armageddon baru atau Y2K. Layaknya murka Tuhan yang amat dahsyat, sebagian mereka takut kesalahan pada teknologi komputer akan menebarkan kerusakan yang luar biasa kepada umat manusia – pesawat terbang jatuh dari langit, peluru kendali lepas tak terkendali, ekonomi ambruk dan sebagainya. Mereka menganggap seolah-olah teknologi itu sendiri merupakan kekuatan yang tak terkendali yang mampu menciptakan pandemonium (baca : kekacauan) dan kerusakan massal.

Hanya kartun ... electronic games ... film ... atau berita. Dengan menyangkal bahwa tayangan di layar itu sebagai sesuatu yang nyata, mereka membiarkan diri mereka sendiri serta anak-anak untuk lalai dengan terus mengkonsumsi kekerasan yang mengguncang itu, dan kemudian terkejut serta terperangah ketika ternyata seorang anak sanggup melepaskan tembakan ke arah kawan-kawannya sekelas di sekolah.

Belum lagi, metafor tentang televisi sebagai “penyatu keluarga” modern terbilang optimistik karena pada kenyataannya – di rumah – anggota keluarga terpencar dalam ruangan yang berlainan untuk menonton acara atau mendengarkan musik kegemaran masing-masing. Teknologi memang dapat menciptakan jarak fisik dan jarak emosional serta merenggutkan mereka dari kehidupan mereka sendiri. Dewasa ini banyak orang Amerika yang tinggal bersama-sama, tetapi sebenarnya hidup sendiri-sendiri.

Lalu dimana letak kesalahannya, Naisbit mengakui bahwa zona mabuk ini adalah kehampaan spiritual yang mengecewakan dan membahayakan. Ia mengusulkan agar adanya kompas moral yang mampu memandu. Agama, lanjut Naisbitt, bisa memberi kita (baca : orang Amerika) kesadaran bahwa secara spiritual kita adalah bagian dari keseluruhan, bahwa hidup pribadi kita terletak di dalam konteks alam semesta yang kekal.

Begitulah mereka yang relung jiwanya kosong dari sentuhan-sentuhan Allah. Mereka tidak memiliki kompas moral dan spiritual yang jelas dan utuh memandu perjalanan mereka. Kalaupun ada, mereka hanya mengkonsumsi itu sebagai “suplemen batin” yang berbentuk, buku, majalah, astrologi, acara keagamaan pada jam tayang utama, terapi-terapi dan meditasi. Suplemen-suplemen tersebut – yang juga dikonsumsi membabi buta – menjanjikan mereka mendapatkan inspirasi, kebahagiaan, keharmonisan, visi, vitalitas, kejernihan, penemuan diri, pencerahan, energi yang ringan dan keseimbangan.

Namun, lagi-lagi kesombongan yang mereka dapatkan dan dengan ragu menyebutnya makna (hidup). Kasihan ...

Muslim di Tengah Arus Kecenderungannya Sendiri

Kehidupan seorang Muslim tentu tidak seburuk gambaran kehidupan di atas. Namun bukan berarti mereka tidak memiliki hasrat, kecenderungan, cita-cita, impian, keinginan atau sejenisnya. Sebagai manusia biasa, seorang Muslim memiliki At Tanaazu’ yaitu ketertarikan, hasrat, merindukan atau condong kepada sesuatu. Oleh karena itu antara diri dan nafsunya, timbullah keinginan untuk merealisasikan kecenderungan-kecenderungan tersebut.

Seperti disebutkan sebelumnya, bahwa dalam diri seorang Muslim kecenderungan-kecenderungan ke arah kebaikan tumbuh menjamur seiring dengan semakin dalam pemahamannya terhadap Islam. Oleh karenanya disinilah perbedaan antara seorang muslim dengan non muslim, dimana kecenderungan yang hadir selalu dalam bingkai kebaikan dan mengharapkan kedekatan serta keridhoaan Allah swt.

Ustadz Muhammad bin Hasan bin ‘Aqil Musa dalam buku “At Tanaazu’ wa tawaazun fii Hayatil Muslim” menyebutkan ada beberapa kecenderungan pada diri seorang Muslim yang tetap harus dijaga sisi-sisi tawaazun dari kecenderungan-kecenderungan itu. Hal tersebut antara lain : kecenderungan menuntut ilmu, kecenderungan memperbanyak kuantitas dan persentase ibadah, kecenderungan berda’wah dan berjihad di jalan Allah, kecenderungan mencari dan meraih harta yang banyak. Tak pelak lagi semua kecenderungan inilah yang akhirnya bisa mewujudkan kemenangan da’wah bila dipadukan dan diaplikasikan secara baik, adil, bijaksana dan seimbang.

Dalam kecenderungan menuntut ilmu, seorang muslim harus menjaga keseimbangan antara semangat menuntut ilmu dengan menyucikan hati. Keduanya jelas memiliki manfaat yang besar bagi seorang muslim. Namun, bila tidak dijaga keseimbangannya bisa menimbulkan efek yang ekstrim. Melulu menuntut ilmu tanpa menata dan mengelola hati akan membuat hati menjadi keras, menumbuhkan kesombongan dan lambat laun akan meremehkan ibadah. Sedangkan terlalu tekun melunakkan hati akan mewarisi sifat penakut dan malas yang kadang kala membuat orang cepat merasa puas.

Selain itu dalam menuntut ilmu harus pula dijaga keseimbangan antara menuntut ilmu syar’i (hukum-hukum Islam) dengan ilmu lain yang bermanfaat. Karena hakikat ilmu adalah harta kaum muslimin yang hilang maka ambillah dimana pun ia berada.

Dalam beribadah kepada Allah swt, seorang muslim harus memprioritaskan pelaksanaan ibadah fardhu, karena ibadah fardhu ini tidak boleh ditinggalkan kecuali ada udzur syar’i. Selain itu seorang muslim juga tidak bisa meninggalkan ibadah-ibdah sunnahnya (sesuai dengan kemampuannya) karena ibadah sunnah merupakan harta karun peninggalan Rasulullah saw yang selalu dicari oleh pemburu kemuliaan dari Allah swt.

Di sisi lain menumbuhkan kemauan yang kuat untuk melaksanakan ibadah adalah syarat awal bagi kelanggengan pelaksanaan ibadah-ibdah tersebut pada hari-hari yang kita lalui. Namun jangan pula terlalu bersemangat beribadah yang akan mengesampingkan hak-hak orang lain disekitar kita, misalnya keluarga kita. Kisah sahabat Rasulullah saw, Abu Darda yang diigatkan – karena terlalu semangat beribadah – bahwa Allah, diri dan keluarga mempunyai hak atas dirinya yang harus dipenuhi secara adil.

Begitupun dalam da’wah dan berjihad di jalan Allah. Keseimbangan antara banyaknya aktivitas da’wah, mengajak manusia kepada jalan Allah harus juga diimbangi oleh banyaknya waktu yang kita sediakan untuk beribadah kepada Allah. Sebab keberhasilan da’wah seringkali berawal dari sentuhan hati. Dan itu diasah dengan cara beribadah kepada Allah swt.

Tak kalah pentingnya adalah seorang da’i muslim harus menjaga keseimbangan antara rasa tidak senangnya terhadap popularitas dengan keharusan tampil memimpin dan memandu ummat. Oleh karenanya unsur keikhlasan dalam hal ini jelas sangat diperlukan.

Mengembangkan Kedua Sayap Kita

Merealisasikan keseimbangan dalam diri adalah sebuah pekerjaan yang sulit. terkadang kita tidak bisa mengetahui apakah kita sudah berada pada titik tengah atau belum. Bahkan kita sendiri tidak mampu menjaga kecenderungan-kecenderungan yang luapannya terlalu besar agar bisa diarahkan pada porsi-porsi yang adil. Malah yang perlu dikhawatirkan bahwa kita terlalu putus asa untuk mewujudkan keseimbangan itu dalam diri kita.

Para sahabat Rasulullah saw telah banyak yang mampu memadukan secara baik dan adil berbagai kecenderungan beramal dalam diri mereka. Lihatlah bagaimana Umar bin Khattab, seorang Khalifah yang memimpin ummat, namun kehidupannya begitu zuhud. Perilakunya tegas saat memutuskan sesuatu, tapi di sudut lain ia menangis khawatir keputusannya keliru. Atau seorang tabi’in Imam Baqiy bin Mukhalid yang mengkhatamkan Al Quran setiap malam dalam tiga belas rakaat. Siangnya sholat sebanyak seratus rakaat, melanggengkan puasa dan dikenal sebagai ahli hadits. Di sisi lain beliau pernah mengikuti peperangan sebanyak 72 kali.

Walaupun sulitnya keseimbangan itu terwujud, namun hendaknya proses berusaha pada diri kita untuk mewujudkan dan melanggengkan keseimbangan itu tidak pernah pudar. Ada beberapa hal yang bisa dijadikan kaidah dalam usaha menjaga keseimbangan kita. Pertama, optimalisasi penggunaan waktu dan cita-cita yang tinggi. Permasalahan awal dari ketidakmampuan kita menjaga keseimbangan adalah buruknya manajemen waktu pribadi dan rendahnya kemauan dan cita-cita kita. Jiwa thumuh (dorongan berprestasi) belum merasuk dalam diri kita. Rasa puas dan cukup dengan kondisi keimanan dan kualitas diri sekarang adalah suatu yang harus kita buang jauh-jauh. “Akulah jiwa perindu. setiap kali ia sampai pada satu tingkat, setiap itu pula ia merindukan tingkat yang lebih tinggi...” demikian Umar ibn Abduk Aziz menuturkan.

Kedua, mengetahui skala prioritas. Mengetahui urutan amal dan prioritas serta mengklasifikasi berbagaimasalah adalah faktor penting dalam membentuk pribadi tawazun. Dengan adanya skala prioritas akan menghindarkannya dari ketidakteraturan kegiatan.

Ketiga, tidak isti’jal (terburu-buru) mengharap terwujud mengharap sesuatu. Menelusuri jalan dengan tidak tergesa-gesa dan berdasar pada ketenangan jiwa yang stabil adalah landasan penting dalam mewujudkan keseimbangan yang dikehendaki. Jarak yang akan ditempuh ratusan mil oleh seseorang harus dimulai dengan langkah pertama. Memang harus dibedakan antara ketergesa-gesaan dan semangat, militansi dan etos kerja. Oleh karenanya agar semangat yang sudah menggebu dalam diri kita tidak berubah menjadi isti’jal maka harus diimbangi dengan pemahaman dan kesabaran.

Keempat, melihat secara utuh setiap persoalan. Setiap orang yang menginginkan keseimbangan dalam hidupnya, ia harus menyelamatkan akalnya dari cara pandang yang parsial, sebab akan melemahkan fungsi akal sendiri. Cara berfikir yang parsial akan mematikan daya kreatifitas manusia dan menyeretnya kepada jalan taqlid serta menghalanginya untuk memperoleh manfaat dari orang lain.

Epilog

Seorang mukmin, bila diibaratkan seekor elang maka kepakan sayapnya adalah cermin kekhusyu’an, paduan antara keseriusan, kerja keras, kesungguhan dan konsentrasi yang mendalam. Tak adalagi ruang kosong antara idealisme dan realitas, karena ujung tali keduanya telah tersimpul dalam ikatan thumuh. Thumuh mereka telah menjelma menjadi padang luas yang kelelahan mengitarinya. “Bila jiwa itu besar. raga akan lelah mengikuti kehendaknya.

Wallahu ‘alam bish showab.

----
Diambil dari Majalah Al Izzah no. 20 Th.2/Agustus 2001

Disalin dari http://www.oocities.com/fosilramcom/ARTIKEL/tawazun.htm
07.48

Salimah Gelar Pengajian Korban Merapi

Sejak awal erupsi Merapi, jajaran Pengurus Wilayah Persaudaraan Muslimah (Salimah) DI Yogyakarta aktif memberikan bantuan kepada para ibu dan anak korban bencana.

"Hingga saat ini, kami secara rutin mendampingi korban bencana di 14 titik lokasi yang tersebar di beberapa dusun, antara lain, Candi, Petung, Turi, Singlar, Gading, dan Sokowetan, Kecamatan Tempel," kata Rennta Chisdiana, koordinator program 'Salimah untuk Merapi'.

Pada Ahad (16/01), Salimah kembali menggelar kegiatan untuk para korban Merapi di Dusun Candi, Kelurahan Purwobinangun, Pakem, dengan kegiatan bertajuk 'Ngaji Ceria Bersama Keluarga'. Menurut dia, kegiatan ini dilakukan bekerja sama dengan mitra LAZIS Perusahaan Listrik Negara (PLN). Dalam pengajian ini, hadir Ustaz Ahmad Burhani sebagai pembicara. Selain tausiyah, kegiatan ini diisi pula dengan penyerahan bantuan berupa 140 paket alat sekolah untuk pelajar setempat.

Menurut Rennta, sejak awal erupsi Merapi, Salimah telah aktif melakukan pendampingan di sejumlah barak pengungsian. Kegiatan ini diteruskan saat para warga telah kembali ke rumah mereka masing-masing.

"Salimah bergerak memberikan bantuan dalam berbagai bentuk, baik bantuan logistik, pendampingan psikososial, pelatihan keterampilan, juga pelatihan kewirausahaan," kata Rennta dalam keterangan tertulisnya, Ahad.

Selain itu, lanjutnya, Salimah juga aktif menggalang dana untuk korban Merapi bermitra dengan banyak lembaga, baik lembaga pemerintah, swasta, ormas, majelis taklim, maupun relasi Salimah di dalam dan luar negeri.

"Hingga saat ini, Salimah sudah menyalurkan bantuan lebih dari Rp 300 juta untuk korban Merapi dari berbagai elemen," ungkap Rennta.

sumber : http://koran.republika.co.id/koran/14/127277/Salimah_Gelar_Pengajian_Korban_Merapi

Post Terbaru

Indeks Artikel...

Langganan via Email

Alamat email Anda: