16.45

Tanggal Berapa Nabi Muhammad lahir?

Selama ini umat Islam di Indonesia pada tanggal 12 Rabiul Awal,banyak yang merayakan hari kelahiran beliau, atau menjadikan momentum perubahan kearah lebih baik dan juga sering disampaikan substansi perayaan Maulid Nabi, bahkan sampai-sampai tanggal 12 Rabiul Awal diliburkan oleh pemerintah. Jika kita sedikit bertanya atau menilik sejarah Rasul, sebenarnya tahu dari mana bahwa kapan rasul dilahirkan? Apakah memang ada hadits yang menjelaskannya atau dapat digunakan metode ruyat dan hisab dalam menghitung kelahiran Nabi Muhammad SAW, coba kita tilik sejarahnya yang dapat menambah wawasan, karena tanggal kelahiran ini sudah diperbincangkan oleh ulama-ulama masyhur terdahulu dan juga ulama-ulama zaman sekarang

Sejarah Maulid Nabi

Kita ketahui dari dulu bahwa saat Rasul lahir, seorang raja bernama Abrahah ingin menghancurkan kabah pada Tahun Gajah karena tempat ibadahnya di Yaman sana “kalah laku”. Pada saat ini pula rasul lahir yang berarti menurut sejarah Rasul lahir pada Tahun Gajah.
Di antara dalil yang memperkuat kelahiran Nabi saw jatuh di Tahun Gajah ialah hadits yang diriwayatkan Ibnu Ishaq yang berkata, “Muthallib bin Abdullah bin Qais bin Makhramah bercerita kepadaku, dari ayahnya, dari kakeknya Qais bin Makhramah yang berkata, ‘Aku dan Rasulullah n dilahirkan di Tahun Gajah. Kami berusia sebaya’.” Dzahabi dalam Tarikhul Islam, hal. 23, ia mengatakan, “Sanadnya baik.”

Dalil lain pada riwayat Ibnu Saad yang dinyatakan shahih,juga dalam buku sakti Ibnul Qayyim, Zadul Ma’ad, dinyatakan bahwa tidak ada perselisihan ulama bahwa Rasulullah lahir di Tahun Gajah. Jadi tentunya para ulama sepakat bahwa Nabi dengan jelas lahir pada Tahun Gajah, dan Tahun gajah dapat diketahui pada tahun berapa sebenarnya Tahun Gajah dalam Masehi

Bulan dan Hari Rasul Lahir

Para Ulama juga menyepakati bahwa Rasul lahir pada bulan Rabiul awal, dan hal ini didukung oleh banyak dalil. Dan bagaimana dengan hari Rasul lahir. Ternyata ada hadits yang menyebutkan dengan jelas bahwa beliau lahir pada hari senin. hadits riwayat Abu Qatadah bahwa Rasulullah saw ditanya tentang puasa hari Senin. Beliau menjawab, “Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus atau diturunkan wahyu (pertama) kepadaku.” Dengan data seperti ini,dapat diketahui dan dihitung bahwa rasul lahir pada tahun berapa dan tanggalnya juga dengan berbagai metode membadingkan berbagai macam sumber. Sehingga para ulama pun dari dahulu sudah memberikan pendapat tentang tanggal lahirnya rasul. Coba kita lihat pendapat para ulama.

Ibnu Katsir menuturkan, “Ada yang mengatakan pada malam kedua bulan Rabi’ul Awwal.
Ini dinyatakan Ibnu Abdil Bar dalam Al-Isti’ab dan diriwayatkan Waqidi dari Abu Ma’syar Najih bin Abdurrahman Al-Madani.

Ada juga yang mengatakan bahwa beliau lahir pada hari ke delapan bulan Rabi’ul Awwal. Pendapat ini diceritakan oleh Humaidi dari Ibnu Hazm dan diriwayatkan Malik, ‘Uqaili, Yunus bin Yazid dan lainnya dari Zuhri, dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im. Abu Khaththab bin Dihyah dalam kitabnya At-Tanwir fi Maulidil Basyirin Nadzir menguatkan pendapat kedua ini.

Ada lagi yang mengatakan beliau lahir pada sepuluh Rabi’ul Awwal. Pendapat ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dari Abu Ja’far Al-Baqir dan Mujalid dari Sya’bi.
Ada juga yang menyatakan bahawa beliau lahir tanggal 12 rabiul awal, ini ditegaskan Ibnu Ishaq dan diriwayatkan Abu Syaibah dalam Mushannaf-nya dari ‘Affan, dari Sa’id bin Mina, dari Jabir dan Ibnu Abbas. Namun hadits ini dhaif karena ada sanadnya yang terputus (oleh Ibnu Katsir dan juga dalam Sirah Ibnu Hisyam)

Pendapat yang benar dari Ibnu Hazm adalah pendapat yang menyatakan Rasul lahir tanggal delapan Rabi’ul Awwal, sebagaimana diceritakan oleh Humaidi. Dan inilah yang paling kuat. ”Ibnu Katsir menyebutkan bahwa banyak pendapat yang tidak didukung oleh dalil shahih".(Al Bidayah Wa-Al Nihayah, Ibnu Katsir, Azzam)

Ditengah beragam pendapat ini, ada baiknya kita melihat para pakar astronomi menilai pada hari senin di Tahun Gajah itu pada tanggal berapa? Banyak dari pakar yang menetapkan kelahiran beliau pada tanggal 9 atau malam ke-9 Rabi’ul Awwal. Di antaranya Ustadz Mahmud Basya (w. 1302 H) sebagaimana tertulis dalam catatan pinggir kitab Al-Kamil fit Tarikh, I : 270, karya Ibnu Atsir.

Abdullah bin Ibrahim bin Muhammad Sulaim dalam bukunya Taqwimul Azman fi Tahqiqi Maulidin Nabi, menyatakan sebagai berikut, “Diriwayatkan dalam kitab-kitab tarikh dan sirah bahwa Nabi saw. dilahirkan pada hari senin tanggal 10 Rabi’ul Awwal. Pendapat lain, tanggal 8 dan 12 Rabi’ul Awwal. Telah terbukti dari periwayatan yang shahih tanpa menyisakan keraguan bahwa beliau lahir pada 20 April 571 M (yang disebut juga sebagai Tahun Gajah). Juga telah terbukti melalui jalan periwayatan yang shahih bahwa hari wafat beliau jatuh pada tanggal 13 Rabi’ul Awwal tahun 11 Hijriah yang bertepatan dengan 8 Juni 632 M.
Selama tanggal-tanggal ini telah terbukti benar dan diakui, maka hari lahir dan wafat beliau dapat diketahui secara tepat, termasuk usia beliau. Yakni dengan mengubah jumlah tahun Masehi tersebut menjadi hari, hasilnya adalah 22.330 hari. Kemudian jumlah hari ini diubah menjadi tahun Hijriah, di mana perhitungan selisih hari setiap tahunnya dengan hitungan tertentu dan didapat kesimpulan. Dengan demikian, usia beliau saw. adalah 63 tahun 3 hari. Hasil hitungan ini sesuai dengan pendapat mayoritas ulama bahwa permulaan tahun hijriah (1 Muharram 1 H) jatuh pada tanggal 16 Juli menurut ru’yah, sedang menurut hisab tanggal 15 Juli. Atas dasar ini, hari lahir Nabi saw. jatuh pada hari senin 9 Rabi’ul Awwal tahun 53 sebelum hijrah dan bertepatan dengan 20 April 571, baik menurut ru’yah maupun hisab.”

Juga pada Sirah Nabawiyah yang saat ini banyak beredar(Juara 1 Lomba penulisan sirah rabitah Alam Al Islami (Dewan Ulama Dunia) dari Syaikh Shayifurrahman Mubarakfury pun menuliskan bahwa 9 Rabiul awal merupakan lahirnya Muhammad SAW didukung dengan dalil-dalil tentang Tahun Gajah, runtuhnya sepuluh balkon istana Kisra, padamnya api yang biasa disembah oleh orang-orang Majusi, dan runtuhnya beberapa gereja di sekitar Buhairah yang diketahui melalui hadits dan juga catatan sejarah.Dan juga menggabungkan penelitian ilmiah ahli-ahli astronomi.

Hal yang menarik ialah ketika perayaan Maulid sering dipaparkan, bahwa kita harus mempelajari sirah Nabi. Dengan mempelajari sirah dengan baik,maka akan menambah wawasan kita dan mengambil pelajaran dari sejarah. Bahwa kita harus sering mencari tahu, bahwa tidak semua yang kita ketahui memang benar, apalagi dalam hal sejarah. Sejarah memang tidak dapat dipastikan kebenarannya, tidak seperti periwayatan hadits shahih dan hasan yang dalam metodenya akan jelas sampai kepada orang yang meriwayatkannya pertama kali. Jika sejarah, riwayat-riwayatnya tidak dapat disusuri, namun dapat diteliti dengan catatan-catatan, juga peninggalan.

Wallahu a'lam

Rujukan:
Al Bidayah wa al Nihayah, Ibnu Katsir
Sirah Nabawiyah, Syaifurrahman Mubarakfury

Ma Sya’a wa lam Yatsbutu fi As-sirah An-Nabawiyyah, Muhammad bin Abdulah Al-Usyan

[fb/rl]

sumber : islamedia.web.id

Post Terbaru

Indeks Artikel...

Langganan via Email

Alamat email Anda: