09.22

Serdadu “Alim” Menyambut Perang

Terjadi lonjakan transformasi yang drastis di tubuh militer Israel. Para prajurit dengan kupluk rajut (songkok khas Yahudi) kian mewarnai militer Israel yang sebelumnya dikenal sekuler.



Di tengah-tengah pasukan khusus Maglan, salah satu pasukan elit militer Israel, Naftali Bennett adalah sebuah keanehan. Sebagai salah seorang perwira di awal 1990-an, ia menjadi komandan pasukan yang terdiri dari lebih 80 laki-laki muda—semuanya sekuler dan anggota masyarakat Kibbutz.

Bennett adalah Yahudi taat, dan di antara para perwira perang di seluruh militer Israel, ia adalah salah satu dari sedikit orang yang memakai Yarmulke (kopiah khas Yahudi), tidak bepergian pada hari Sabtu, dan tidak pernah makan cheeseburger karena larangan Yahudi untuk mencampur susu dan daging.

Setelah sekian lama menjadi sipil, baru-baru ini Bennett memiliki kesempatan untuk mengunjungi rekrutmen pasukan baru di unitnya yang lama. Ada dua hal yang mengagetkannya: banyaknya jumlah Yahudi religius di kalangan muda, dan upaya luar biasa Angkatan Darat untuk menampung mereka. “Pada masa saya dulu, tak seorang pun berpikiran seperti itu,” ujarnya kepada Newsweek.

Sebuah transformasi kini melanda militer Israel. Orang-orang religius (fanatik) telah menduduki posisi-posisi pimpinan, jauh melampaui jumlah orang-orang biasa. Mengingat kaum religius Israel cenderung lebih hawkish (doyan perang) daripada orang kebanyakan, maka tren ini menimbulkan pertanyaan besar apakah Israel dapat mengandalkan militer untuk mengimplementasikan bagian terberat perjanjian perdamaian dengan Palestina di masa depan.

Upaya-upaya AS untuk menjaga pembicaraan damai kedua pihak terus berlanjut seiring dengan pertimbangan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang memperpanjang larangan pembangunan pemukiman Yahudi di Tepi Barat hingga tiga bulan. Namun jika kesepakatan damai toh dicapai, pasti akan membutuhkan evakuasi, setidaknya untuk beberapa pemukiman—sebuah pekerjaan bagi tentara.

Sejumlah pengamat militer dan mantan perwira khawatir jika religiusitas baru ini dapat menimbulkan pembangkangan massal. “Jika prajurit memutuskan tidak ambil bagian, itu satu hal,” kata Mikhael Kacip, seorang letnan cadangan yang tergabung dengan kelompok sayap kiri Breaking the Silence. “Namun jika para komandan tidak mau ambil bagian, akan jauh lebih mengkhawatirkan.”

Ancaman tidaklah sejauh kedengarannya. Sejak pemerintah Israel menghancurkan pemukiman Homesh di Tepi Barat pada 2005, para mantan pemukim tetap berupaya mendirikan pos-pos ilegal di sana, dan pihak berwenang terus mengirim pasukan untuk mengusir mereka.
Setahun lalu, dalam upacara pengambilan sumpah rekrutmen baru Batalyon Shimshon di Yerusalem, beberapa tentara membentangkan spanduk yang berbunyi “Shimshon Tidak Akan Mengevakuasi Homesh”. Pengadilan perang militer menyidang para pelaku, menjobloskan ke penjara, dan memecat mereka. Namun beberapa pekan sesudahnya, tanda-tanda serupa muncul lagi di dua unit pusat latihan lainnya.

Walaupun militer Israel memublikasikan sedikit informasi tentang latar belakang calon serdadunya, isu terkini jurnal pertahanan Maarachot melaporkan, dalam beberapa tahun terakhir sekitar 30 persen lulusan kursus perwira infanteri mendefinisikan diri sebagai “Zionis-religius”—naik 2,5 persen dibanding 20 tahun yang lalu. Sebagian besar calon letnan dan sejumlah perwira perang berpangkat tinggi berasal dari pemukiman Yahudi di Tepi Barat.

Meningkatnya jumlah serdadu yang memakai “kupluk rajut” telah dibangun selama bertahun-tahun. Pada 1990-an, setelah perang kontroversial Lebanon pertama, sebagian besar warga Israel yang liberal tak lagi mendorong anak-anak mereka untuk mengikuti wajib militer. “Kami yang sekuler hanya bisa menyalahkan diri sendiri karena tak lagi mampu meyakinkan anak-anak untuk menghabiskan waktu di militer seperti di masa lalu,” kata Avshalom Vilan, mantan anggota parlemen dari partai sayap kiri Meretz dan anggota Kibbutz.

Pada saat yang sama, semakin banyak kaum religius Israel yang berpendapat komunitas mereka seharusnya memainkan peran yang lebih besar dalam membangun sekularisme negara itu beberapa dekade sebelumnya. Masuk militer dengan sungguh-sungguh merupakan cara untuk menebus waktu yang hilang. “Komunitas agama harus terlibat di semua lembaga publik, bukan hanya Angkatan Darat. Itulah revolusi yang kita ciptakan,” kata Rabi Eli Sadan, warga pemukiman Eli di Tepi Barat.

Sadan mengurusi salah satu akademi pra-militer di Tepi Barat di mana para rabi mengajar Taurat dan filsafat Yahudi selama dua tahun sambil mempersiapkan siswa mengikuti wajib militer dengan misi keagamaan. Akademi militer yang dijalankan dengan semangat religiusitas memiliki peran besar dalam membentuk tentara.

Dari sekitar 2.500 alumni yang dihasilkan Sadan, setengahnya telah menjabat sebagai perwira di detasemen tempur, dan seperempatnya bertugas di kesatuan militer paling elit. Dua puluh satu orang lulusan tewas dalam tugas, kebanyakan dalam beberapa tahun terakhir. Nama dan foto mereka dipampang pada dinding ruangan peringatan akademi, kecuali seorang letnan kolonel yang tewas di Lebanon. “Unitnya sangat rahasia, dan fotonya tidak dapat ditampilkan bahkan setelah kematiannya,” kata orang-orang di akademi.

Kepahlawanan seperti ini menciptakan penghormatan. Walau demikian, para kritikus khawatir dengan loyalitas keagamaan Yahudi dalam seragam (tentara): jika diuji, apakah mereka akan mematuhi komandan ataukah rabi mereka? Nyatanya, sejumlah rabi di Tepi Barat telah berulang kali mendesak tentara untuk tidak mengevakuasi orang Yahudi dari pemukiman.

“Bagaimana mungkin seseorang memerintah orang Yahudi, yang menerima mitzvah (perintah) mendiami tanah Israel sebagai hal yang sentral, untuk menghancurkan pemukiman dan memindahkan warganya?” tulis rabi berpengaruh Eliezer Melamed dalam sebuah kolom online.

“Ketika putusan pemerintah Israel bertentangan dengan perintah esensial untuk mendiami tanah Israel, ada preferensi yang jelas dan tegas bagi hukum Taurat,” lanjut Eliezer.

Yang pasti, tidak semua Yahudi fanatik mendukung gerakan para pemukim. Bahkan jika ada di antara mereka yang melakukannya, sebagian besar percaya bahwa mempertahankan keutuhan tentara lebih penting ketimbang pertempuran politik tersuci sekalipun.

Menurut Sadan, hanya sedikit tentara fanatik yang menolak perintah selama penarikan pasukan Israel dari Gaza pada 2005. Evakuasi Gaza hanya melibatkan 10.000 pemukim. Sementara jumlah mereka di Tepi Barat—yang jauh lebih suci bagi agama Yahudi—mencapai 300.000 orang.

Yagil Levy, sosiolog terkemuka Israel, menyebut para pemukim yang berada di antara markas kompi dan batalyon militer di Tepi Barat sebagai orang-orang bermasalah. Dia mengutip kasus di mana tentara kerap membocorkan informasi kepada pemukim tentang evakuasi yang akan dilakukan, sehingga memberikan waktu kepada mereka untuk mengadakan perlawanan.

Meningkatnya jumlah serdadu “alim” di tubuh militer Israel, nampaknya kian mengkhawatirkan proses perdamaian di kawasan. Kaum Zionis sepertinya tak mau kalah dengan Hamas. Dan perang masih akan berlangsung lama. (Newsweek)

sumber :  http://chairulakhmad.wordpress.com/2011/01/06/serdadu-%E2%80%9Calim%E2%80%9D-menyambut-perang/

Post Terbaru

Indeks Artikel...

Langganan via Email

Alamat email Anda: