22.31

Pimpinan Universitas Islam se-Dunia Wacanakan Islamisasi Keilmuan

TEMPO Interaktif, MADIUN - Dikotomi antara agama dan ilmu dalam kajian-kajian barat menjadi keprihatinan para pemikir Islam Islam sedunia yang tergabung dalam Liga Universitas Islam.

Masalah tersebut menjadi salah satu bahan kajian pimpinan universitas Islam dari 12 negara yang saat ini sedang berkumpul dalam Konferensi Liga Universitas Islam ke-2 di Institus Studi Islam Darussalam (ISID) Pondok Modern Darussalam, Gontor, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Konferensi internasional bertajuk "Membangun Budaya Ilmiah Bersama Universitas di Asia" digelar sejak hari Minggu kemarin (9/1) dan berlangsung hingga Selasa besok (11/1).

Pimpinan universitas Islam dari Asia dan Timur Tengah yang hadir di antaranya dari Mesir, Arab Saudi, Syiria, Libya, Yaman, Qatar, Kuwait, Pakistan, India, Malaysia, serta sejumlah negara lainnya, dan Indonesia sebagai tuan rumah.

"Selama ini kajian keilmuan mengacu pada kajian-kajian barat yang sudah lama memisahkan antara agama dan ilmu. Maka perlu ada upaya baru dalam kajian keilmuan dengan pendekatan Islam," kata Ketua Panitia Konferensi Hamid Fahmy Zarkasyi yang juga Pembantu Rektor dan Direktur Program Pasca Sarjana ISID, Senin (10/1).

Hamid menjelaskan bahwa wacana tersebut dalam dunia pemikiran Islam sering diistilahkan Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer. "Istilah Islamisasi ini tidak sama dengan Kristenisasi, bukan masalah konversi antar agama tapi tentang ilmu. Jadi kita menggali ilmu-ilmu yang tumbuh dari Islam dan berdasarkan sumber-sumber Islam yang dulu sudah pernah ada. Dengan demikian ilmu itu tidak bebas nilai atau tidak ada nilai keagamaannya," ujarnya.

Menurutnya, kajian tentang studi Islam dalam setiap fakultas di universitas Islam selama ini sama. Padahal menurutnya semua keilmuan bisa dikaji dengan pendekatan Islam. "Misalnya studi Islam dalam Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum tidak ada bedanya. Padahal ekonomi dan hukum bisa dipelajari," paparnya.

Ia berharap melalui konferensi ini akan terjalin kesepahaman antara pemikir Islam, baik dari universitas Islam yang ada di Indonesia, Asia, dan negara-negara di Timur Tengah. "Kerja sama semacam ini memang sangat dianjurkan oleh Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan Nasional. Sebab selama ini universitas-universitas di negara-negara Islam selama ini tidak pernah berkolaborasi dengan universitas di Indonesia hanya karena persoalan bahasa dalam berkomunikasi.” Selain mewacanakan adanya Islamisasi keilmuan, dalam konferensi ini juga ditargetkan melahirkan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding antara universitas Islam di Indonesia dengan Timur Tengah. "MoU itu macam-macam misalnya soal pertukaran mahasiswa dan beasiswa," katanya.

Pemerintah Indonesia mendukung penuh kerjasama antar universitas Islam di Indonesia dengan Timur Tengah ini. "Rektor universitas di Indonesia dan luar negeri harus bahu membahu membuat perubahan yang positif. Universitas luar negeri diharapkan membuka kesempatan yang lebih besar untuk membuka kerja sama dengan universitas di Indonesia," kata Direktur Ketenagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional Supriadi Rustad saat membuka konferensi kemarin.

sumber :  http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2011/01/10/brk,20110110-305123,id.html

Post Terbaru

Indeks Artikel...

Langganan via Email

Alamat email Anda: