07.31

Ikhwan-Akhwat dan Misi Keluarga Dakwah

Komunikasi Dakwah kepada Keluarga

Sebagian besar generasi muda dakwah bersinggungan dengan Islam di tengah jalan. Bukan karena kondisi keluarga yang memang kurang kondusif sejak awal, melainkan kelemahan dan kelambanan kita dalam
membawa nilai baru tersebut ke lingkungan keluarga kita. Kenyataan yang terjadi adalah terbentuk jarak antara kita, dakwah, dan keluarga.Kita berubah, tapi perubahan tersebut tidak meresap masuk dalam
dinamika keluarga kita. Ini menjadi pintu pertama permasalahan ikhwan dan akhwat ketika kelak memutuskan untuk menikah.

Pengenalan Karakter Dasar Profil Ikhwah, termasuk Kesiapan dan Model Pernikahan

Ada kenyataan bahwa ketika seorang anak dalam sebuah keluarga mengalami pencerahan dan ikut dalam tarbiyah, orang tuanya justru menjadi asing dengan si anak tersebut. Ketika komunikasi keluarga tersebut tidak harmonis, maka dampaknya akan terbentuk jarak antara anak dan orang tua. Orang tua merasa bahwa Islam yang diyakini anaknya membuat anak tersebut berbeda dan merebut kenangan serta harapan yang
dimiliki orang tua.

Konteks inilah yang harus disikapi. Ketika dakwah masuk ke dalam pola dan gaya hidup kita, maka orang tua seharusnya adalah pihak pertama yang bersyukur. Dakwah tidak harus merubah nilai dasar yang menjadi
ciri kepribadian kita, sebagaimana karakter Umar bin Khattab juga tetap antara sebelum maupun sesudah berislam. Bukan dengan alasan budaya keluarga yang tidak Islami, membuat kita berpikir untuk taat
sendirian.

Bawalah Islam yang kita miliki kepada keluarga secara perlahan-lahan. Ibu, ayah, kakak, adik, dan anggota keluarga lainnya juga berhak atas apa yang Allah berikan kepada kita sebagai hidayah. Dengan begitu,
komitmen dakwah lebih jauh bisa mendapatkan dukungan. Terkait dengan persiapan dan pengkondisian pernikahan, ajaklah orang tua dan keluarga kita ke walimahan yang diselenggarakan oleh ikhwah kita. Selanjutnya membuka ruang diskusi dengan membandingkan ragam model pernikahan ditinjau dari kepentingan dakwah dan pendidikan generasi.

Membawa Aktivitas Dakwah ke Rumah

Sesekali ajaklah teman-teman aktivis kita ke rumah. Tidak hanya ikhwan saja, libatkan juga akhwat (atau sebaliknya). Biarkan keluarga kita mengenali dan berasumsi tentang mereka. Bagi yang punya binaan, bisa
juga menyelenggarakan pembinaan di rumah. Atau sesekali agenda dakwah kita di lembaga dirancang untuk mengundang orang tua kita sehingga mereka menjadi paham kenapa anaknya jarang di rumah.

Secara substansi, jangan asingkan keluarga kita dengan perubahan yang kita miliki. Jangan jauhkan mereka dari dinamika dakwah yang kita jalani. Kalau perlu, libatkan mereka secara langsung dalam daurah dan
rihlah yang kita lakukan ke luar kota, atau model apa saja yang bisa kita rancang.

Misi besar yang diemban adalah menjadikan parameter penilaian mereka dalam substansi Islam. Inilah kerja keras kita, sebab kita bersaing dengan ragam sinetron yang menjual mimpi tentang kemapanan usia muda
dan norma permisif yang ditawarkannya.

Pengkondisian 2 Tahun Pra Nikah

Kita berhadapan dengan paradigma kemapanan yang sangat materialistis. Kita berhadapan dengan nilai lingkungan yang secara informal didoktrinkan lewat beragam media sehingga sulit bagi kita untuk
berkata, "Yang penting adalah keshalihan dan pemahaman yang baik tentang agama, sebab dengan itu dia pasti bertanggung jawab."

Tidak masalah ketika ikhwan yang datang ke orang tua adalah mereka yang standar secara materi atau minimal di dukung oleh keluarga yang mapan. Akan tetapi jika yang kita kenal orangnya taat dan amanah, tapi
terbatas dalam materi, sementara kita yakin dia bertanggung jawab, bagaimana kita mengkomunikasikannya kepada orang tua? Sebulan dua bulan akan menjadi terlalu singkat. Itu pun perlu didukung oleh pola
keluarga yang dialogis untuk berhasil.

Maka diskusi tentang substansi pernikahan, apa yang menjadi tujuannya, dan bagaimana proses pelaksanaannya adalah hal dasar yang harus jelas bagi keluarga kita. Itulah mengapa dikontekskan pengkondisian 2 tahun adalah mengacu pada persiapan yang cukup karena mengemban misi yang
tidak sederhana. Jangan sampai gambaran indah tentang keluarga dakwah kandas karena kelemahan kita dalam persiapan ini.

Seimbangkan Gambaran Ideal dan Kondisi Riil

Konteks ini lebih kepada ikhwan dan akhwatnya bahwa sekufu adalah  keseimbangan dalam dakwah dan keyakinan. Hendaknya penerimaan kita kepada calon pendamping adalah berpijak pada kenyataan yang ada.
Jangan sampai terlalu tinggi bintang yang dikejar sehingga terlupakan bumi yang dipijak.

Lalu bagaimana jika kita layak mendapatkan yang ideal, tapi secara sadar kita menurunkan kriteria? Ini mungkin bisa menjadi tauladan umat. Sebagaimana seseorang dikatakan zuhud bukanlah mereka yang tidak
memiliki harta dan kemampuan, melainkan mereka yang memiliki kemampuan dan secara sadar menjalani pola hidup zuhud. Maka, mungkin sekarang saat yang tepat untuk zuhud dalam pernikahan. Cukupkanlah diri, insyaAllah akan datang pendamping yang seimbang.

Jadi, masalah sekufu ini kita cukupkan sampai saat ini. Selanjutnya kita kondisikan keluarga, orang tua, dan diri kita untuk lebih melihat pernikahan secara substansial. Semoga Allah menyempurnakan ketaatan
kita dan menjadikan diri kita sebagai asbab lahirnya generasi dakwah yang lebih kuat sehingga orang hanya akan mengenal satu sisi pernikahan, yaitu keindahan dan kemuliaan. Wallahu'alam.

-----
Diambil dari majalah Al-Izzah edisi Juni 2004 (dengan beberapa pengurangan dan sedikit perubahan)

Disalin dari : http://groups.yahoo.com/group/muslim-klaten/message/1017

Post Terbaru

Indeks Artikel...

Langganan via Email

Alamat email Anda: